“Ghost” | KyuMin | Chap 1/? | No Yaoi | T | Romance, Hurt |

 

Cinta itu buta. Cinta tidak mengenal usia, gender, status, kedudukan, bahkan cinta tidak memperdulikan dirimu yang nyata atau hanya bayang semu.

GHOST

Casts Ó SM Entertainment, JYP Entertainment

by Kim Sun

Warn: typos, abal, pasaran, OOC

MINHYUN POV

Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya, selalu selalu saja terasa suram. Aku menyibakkan selimut hangatku dan turun dari ranjang. Kakiku menyentuh lantai yang dingin. Seandainya aku tidak perlu bekerja, pasti saat ini aku masih bergelung di dalam selimutku yang hangat.

Oh, aku belum memperkenalkan diriku ya? Lee Minhyun imnida, biasa dipanggil Minhyun. 26 tahun, yatim piatu dan punya pekerjaan di mana-mana. Tinggal seorang diri bersama kucing kecil bernama Sun.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Hari ini begitu dingin ya? Aigoo, kalau udaranya sedingin ini aku bisa membeku saat mandi nanti. Aku berjalan ke dapur dan memanaskan air untuk mandiku. Kemudian aku mengambil Sun yang sedang tertidur di sofa dan menaruhnya di pangkuanku. Tapi Sun segera terbangun dan melompat meninggalkan aku sendirian. Aigoo~

Sebenarnya, beberapa hari ini aku merasa ada yang aneh di rumahku. Sun yang biasanya berlaku manis, belakangan ini selalu mengeong keras saat masuk ke kamarku. Aku juga merasa ada seseorang yang memperhatikanku, tapi siapa? Di rumah ini tak ada siapa-siapa selain aku dan Sun.

Pagi ini Sun kembali mengeong keras. Matanya menatap tajam ke arah sudut ruangan, tempat meja belajarku. Ayolah, jangan buat aku takut begini, Sun.

Aku mendorong Sun keluar dari kamarku, kemudian menutup pintunya. Aku harus bergegas. Kalau aku kesiangan bekerja, nanti aku bisa dimarahi Jung Ajumma, pemilik cafe tempatku bekerja.

Perlahan aku mulai membuka kancing piamaku. Tapi sebelum aku melepaskannya, aku merasakan ada angin lembut yang berhembus di tengkukku. Cepat-cepat aku menoleh ke arah jendela. Tertutup. Lalu, dari mana datangnya angin itu?

Karena ketakutan aku buru-buru mengambil bajuku dan berganti di luar kamar. Oh ayolah, ini rumahku sendiri. Siapa yang peduli aku mau ganti baju di mana.

.

.

Di tempat kerja, aku menceritakan semua keanehan yang belakangan ini terjadi di rumahku pada temanku, Yoona.

“Bagaimana kalau kita bertanya pada Tiffany agassi. Kudengar dia bisa melihat hal-hal yang mistis seperti itu. Siapa tau di rumahku memang ada sesuatunya,” saran Yoona dengan mimik wajah yang mengerikan.

“Aish, jangan memasang tampang seperti itu. Kau mengerikan.”

“Makanya itu, ayo kita tanyakan. Aku kan juga ikut takut kalau menginap di rumahmu.”

“Apa tidak akan merepotkan Tiffany agassi? Jangan-jangan ini hanya perasaanku saja. Kau tau sendiri kan kalau aku ini orangnya parno,” kataku tak acuh.

“Sudahlah. Kau tau kan kalau hewan itu bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Aku yakin Sun melihat sesuatu di rumahmu. Apa kau tidak takut? Bagaimana kalau ada hantu di rumahmu dan ia akan membunuhmu?” kata Yoona ngawur -,-

Aku berpikir sejenak. “Baiklah, pulang kerja nanti ayo ke rumah Tiffany agassi. Lagipula aku juga penasaran.”

.

.

Sepulang kerja, aku dan Yoona bergegas menuju tempat Tiffany agassi. Tiffany-ssi adalah pengunjung cafe di tempatku bekerja yang sedikit unik. Ia selalu memandang ke arah jalan raya dan berbicara dengan angin. Tiffany-ssi juga selalu memesan dua cake dan dua minuman, entah untuk siapa. Ia selalu bersikap seolah-olah ia datang ke cafe bersama seseorang.

Sesampainya di depan apartemen Tiffany-ssi, aku segera memencet belnya berkali-kali.  Aku sungguh tidak sabar ingin segera mengetahui apa yang ada di rumahku. Akan sangat mengerikan kalau ternyata ada arwah jahat yang tinggal di rumahku dan berencana mencelakaiku. Hiii~ memikirkannya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri.

“Nuguseyo?” Tiffany-ssi muncul dari balik pintu.

Aku dan Yoona membungkukkan tubuhku memberi salam. “Annyeong haseyo.”

“Ne, annyeong. Oh, Minhyun, Yoona, dan,…” Tiffany-ssi menggantung kalimatnya.

Aku menoleh ke belakang dan melihat hanya ada Yoona yang berdiri di sana. Yoona menatapku dengan tatapan horror.

“Eh, Agassi, kami hanya datang berdua saja.”

Tiffany-ssi hanya memutar kedua bola matanya tak acuh sambil membuka pintunya lebih lebar dan menyingkir, memberi jalan padaku dan Yoona masuk.

Setelah aku dan Yoona masuk, Tiffany-ssi masih menahan pintunya dan bertingkah seakan mempersilahkan seseorang masuk. Tapi setelah kami menunggu, tidak ada satu orangpun yang masuk.

Aku dan Yoona saling berpandangan horror seolah baru saja menelan cicak goreng.

“Nah, tumben sekali kalian datang ke tempatku? Ada apa?” tanya Tiffany-ssi sambil menatapku.

Aku menceritakan segalanya pada Tiffany-ssi, tentang Sun yang selalu mengeong jika melewati kamarku, tentang sesuatu yang seperti mengawasiku, juga tentang kejadian pagi tadi. Tiffany-ssi hanya mendengarkan ceritaku dengan  seksama dan sekali-kali mengangguk kecil.

“Kau tak perlu menghawatirkan apa pun,” ucap Tiffany-ssi setelah aku selesai menjelaskan panjang lebar keadaan rumahku.

“Lalu, ada apa di rumahku? Kenapa Sun bertingkah aneh jika melewati kamarku?”

Tiffany-ssi tersenyum misterius. “Apakah belakangan ini kau sering mendapatkan keberuntungan?”

Aku memutar ingatanku mengenai kejadian belakangan ini. Memang ada banyak keberuntungan yang datang padaku belakangan ini. “Ya. Memang kenapa?”

“Kalau begitu, kau adalah orang yang sangat beruntung.”

Aku melirik Yoona dengan tatapan ‘ada-apa-dengan-yeoja-di-depanku-ini?’. Jelas saja aku adalah orang yang sangat beruntung, aku kan akhir-akhir ini mendapatkan keberuntungan. Kalau cuma hal itu saja aku juga tau.

“Maksud Agassi?” tanyaku bingung.

“Kau akan mengetahuinya, tapi bukan dari aku. Lagi-lagi Tiffany-ssi tersenyum aneh.”

Apa sih yang sebenarnya terjadi?

.

*****

.

Aku menghela nafasku berat. Ini sudah hari ke-29 Sun terus saja bersikap aneh jika berada di kamarku. Dan sampai saat ini aku masih belum tau apa yang ada di rumahku itu, tepatnya di kamarku.

Aku sudah berulang kali mendesak Tiffany agassi agar mau memberi tahu ada apa di kamarku tapi ia tak pernah mau memberi tahuku. Ia selalu tersenyum misterius sambil berkata. “Tidak ada yang salah, kau adalah orang yang sangat beruntung.”

Aish, beruntung apanya coba? Aku yatim piatu, miskin, sendirian, dan harus bekerja keras untuk tetap hidup. Beruntung apanya?

Oh, atau mungkin yang Tiffany-ssi maksud itu aku beruntung karena tidak jadi kejatuhan kaleng cat, tidak jadi kecopetan, tidak jadi digusur karena ada orang asing yang sudah membayar tagihan rumahku? Beruntung yang seperti itu?

Aku mengacak-acak rambutku kesal. Sampai kapan aku harus menghadapai keanehan-keanehan ini? Apa aku harus pindah rumah? Tapi dapat uang dari mana coba? Apa aku harus memanggil paranormal, dukun, orang pintar, bahkan pendeta? Aish!

Ting tong, ting tong.

Aish, siapa juga yang bertamu malam-malam begini?

Aku berjalan malas-malasan ke arah ruang tamu. Dan ketika aku membuka pintu,..

kosong.

Aku hanya menemukan sebuket bunga yang tergeletak di bawah pintu. Aku memungutnya dan membaca kartu yang disematkan.

‘Untuk Lee’

Lee? Maksudnya aku? Siapa yang memberiku bunga malam-malam begini? Dan, untuk apa?

Aku membawa buket bunga itu masuk ke dalam dan menaruhnya di atas meja. Pasti hanya orang asing yang salah mengirim bunga. Orang yang bermarga Lee tidak hanya aku saja di dunia.

Aku naik ke tempat tidurku dan menyibakkan selimutku. Tunggu, sepertinya ada yang aneh dengan kamarku. Bukannya tadi sangat berantakan ya? Kenapa sekarang sudah rapi? Dan hei, tulisan apa itu?

Aku turun dari tempat tidurku dan berjalan menuju meja riasku. Aku mengamati tulisan kecil yang ada di ujung cermin. Ditulis dengan lipstik merah.

‘Gomawoyo, Lee’

Siapa yang menulisnya di situ? Seingatku aku tak pernah menulis yang seperti itu. Lagi pula untuk apa aku berterima kasih pada diriku sendiri? Ini benar-benar aneh.

Lagi-lagi aku merasakannya. Debaran tipis di jantungku dan bulu kudukku yang berdiri tiba-tiba. Ada apa ini?

Aku segera berlari ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa jantungku tiba-tiba berdesir aneh. Dan oh, kenapa wajahku memerah begini? Aish, pabo!

Aku terus bergelung di dalam selimutku sambil mencoba menenangkan perasaanku, hingga akhirnya aku terlelap menjemput mimpi.

.

*****

.

“Jinjja?” Yoona membelalakkan matanya setelah mendengar ceritaku mengenai kejadian semalam.

“Aku benar-benar tak tau apa yang ada di rumahku.” Aku menghela nafas frustrasi.

Yoona terlihat sedang berpikir selama beberapa saat. “Bagaimana kalau kita undang Tiffany-ssi untuk datang ke rumahmu dan kita paksa Tiffany-ssi menceritakan semuanya.”

Aku berdiri dari kursi yang baru saja kududuki. “Terserahlah, paling-paling ia tak mau memberi tau kita.” Aku mengambil serbet kemudian mengelap meja.

Yoona memperhatikanku dari tempatnya duduk “Hei, kau mau terus-terusan tinggal bersama hantu? Ayolah, rumahmu menakutkan, kau tau?”

“Tapi mau bagaimana lagi, Tiffany-ssi tetap tidak mau memberi tau kita. Sudahlah, lupakan saja rumahku. Ayo kita kerja lagi. Nanti Jung Ahjumma bisa marah kalau tau kita malah mengobrol,” ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya aku sudah lelah dengan masalah rumahku ini.

“Annyeong. Sepertinya aku mendengar ada yang menyebut namaku?” Tiba-tiba Tiffany-ssi muncul dari belakang sambil membawa sebuah nampan berisi dua cake dan dua minuman.

“Annyeong agassi,” ucapku dan Yoona berbarengan sambil membungkukkan badan.

“Agassi, silakan duduk di sini,” pinta Yoona sambil menarik sebuah kursi dari meja yang tadi kubersihkan. Saat Yoona menarik kursi yang ada di depan Tiffany agassi, sontak Tiffany agassi melarangnya.

“Jangan duduk di situ. Kau duduk di sini saja,” kata Tiffany agassi sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.

Yoona menatapku dengan pandangan heran tapi ia tidak bertanya apa-apa dan duduk di sebelah Tiffany agassi.

‘Pasti teman-tak-terlihatnya’, pikirku.

“Agassi, datanglah ke rumah Minhyun. Lihat apa yang ada di rumahnya. Rumahnya sangat menakutkan sekarang,” pinta Yoona dengan wajah memelas.

Tiffany agassi tidak mengacuhkan Yoona dan tetap menghisap minumannya perlahan.

“Agassi, tolonglah. Aku benar-benar tak tahan lagi dengan keadaan rumahku.” Aku menatap  Tiffany agassi yang masih tidak mengacuhkanku dan Yoona. Hh, apa sih sebenarnya mau orang ini? Menyebalkan.

“Sebenarnya kau sudah tau apa yang ada di rumahmu. Hanya saja kau menyangkalnya dan menolak untuk percaya,” kata Tiffany agassi dengan tenang.

“Maksud Agassi? Bagaimana Minhyun mengetahuinya?” tanya Yoona penasaran.

“Mimpi.” Lagi-lagi Tiffany agassi  tersenyum misterius di balik cangkirnya.

“Mimpi?” Yoona menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.

Aku mengalihkan pandanganku dasi mata Yoona dan bergerak-gerak gelisah di tempatku.

.

.

FLASHBACK

Aku merasakan nyeri di tulang punggungku. Rasanya aku baru saja dibanting dengan keras ke lantai. Ugh, benar-benar sakit.

Aku menatap sekelilingku. Gelap. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya kegelapan pekat yang suram. Mengerikan sekali di sini.

Aku berusaha bangkit dari posisi tidak elitku dan melangkahkan kakiku mencari seseorang. Suara langkah kakiku menggema dengan keras, membuat kesunyian tempat ini terasa lebih menakutkan.

Aku menjulurkan tanganku, mencoba meraba-raba. Barangkali nanti aku akan menabrak tembok atau ada sesuatu di depanku.

Tap, tap, tap..

Aku mendengar bunyi langkah kaki. Oh, bodoh. Tentu saja itu langkah kakiku sendiri.

Tap, tap, tap, tap..

Lagi-lagi aku mendengar suara langkah kaki. Aku menghentikan langkahku, namun suara langkah kaki itu masih tetap terdengar.

“Annyeong. Ada orang di sana?” tanyaku. Suaraku menggema berkali-kali sebelum hilang ditelan kesunyian.

Aku menjulurkan tanganku lagi, mulai meraba-raba.

Grep~

Aku merasakan ada seseorang yang menyentuh tanganku. Tangannya lembut dan hangat.

“Nu, nuguseyo?” tanyaku takut-takut. Yah, siapa tahu yang memegang tanganku adalah hantu.

Orang—atau hantu—itu melepaskan pegangannya pada tanganku.

“Tak perlu takut. Aku tak akan menyakitimu.” Terdengar suara seorang namja di dekatku.

“Nuguseyo?” tanyaku sekali lagi. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Tapi yang terlihat hanya kegelapan pekat.

“Aku penolongmu. Tenanglah. Mulai saat ini kau tak akan kesepian lagi,” ucap suara itu tenang.

“Penolongku? Apa kau yang selama ini bersemayam di kamarku? Kau hantu?”

Selama beberapa saat terdengar suara tawa yang ringan dan merdu. “Kalau kau menganggapnya begitu.”

Rasanya ada sebuah tangan yang menepuk-nepuk kepalaku. Aku memejamkan mataku rapat-rapat, di antara merasa nyaman karena sentuhannya dan ketakutan.

“Aku tak akan menyakitimu. Percayalah.”

Aku memberanikan diriku untuk membuka mataku. “Tapi, siapa kau? Kenapa kau tinggal di rumahku? Dan mana sosokmu?” tanyaku penasaran.

Hening sesaat.

“Kau masih di sana?” tanyaku.

Terdengar helaan nafas berat. “Yah, kau tau, aku—“

Belum selesai ucapannya, aku mendengar suara bedebum keras dari arah belakangku. Saat aku menoleh aku melihat ada sinar putih yang sangat menyilaukan. Kemudian samar-samar terdengar suara tawa seseorang, dan suara,.. kucing?

FLASHBACK END

.

.

“Minhyun, Minhyun, kau kenapa?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Di depanku tampak Yoona yang menatapku dengan cemas sedangkan Tiffany-ssi hanya menatapku datar, entah apa yang dipikirkannya.

“Neon gwaenchanha? Kenapa tiba-tiba kau terengah-engah begitu?” tanya Yoona sambil menyodorkan segelas air putih.

“Gwaenchanha. Aku merasa kita hanya perlu bekerja kalau tidak ingin dipecat Jung Ahjumma,” jawabku asal sambil bangkit dari tempat dudukku meninggalkan Yoona yang masih kebingungan dan Tiffany-ssi yang lagi-lagi tersenyum misterius sambil menyesap minumannya.

.

.

Selama diperjalanan pulang aku terus memikirkan mimpi anehku itu. Aku begitu serius berpikir sampai tidak menyadari kalau-

TIIINN!!

“HEI NOONA! KALAU MAU BUNUH DIRI JANGAN DI SINI!? CUIH, MEREPOTKAN SAJA!!”

-aku sudah menyeberang sebelum lampu hijau pejalan kaki menyala. Paboya!

Sesampainya di rumahku aku melihat ada surat yang diselipkan di pintu masuk. Lagi-lagi tertulis ‘Lee’. Aku membawa surat itu masuk dan membukanya.

‘Lee, jangan melamun lagi saat berjalan.

K.’

K? Siapa ‘K’?

Aku tidak mengacuhkan surat itu dan bergegas masuk ke dalam kamarku. Dan hei, siapa yang sudah berani masuk kamarku tanpa ijin?

Aku melihat ke sekeliling kamarku. Mawar. Mawar. Mawar. Semua sudut kamarku dipenuhi dengan mawar merah. Siapa yang melakukannya? Berani sekali ia masuk ke kamarku?

Aku berjalan menuju kasurku. Sehelai kertas tergeletak di atasnya. Aku mengambilnya dan menemukan huruf ‘K’ di surat itu. Siapapun K pasti dia seorang stalker.

Stalker? Aku tertawa sendiri begitu menyadari pikiran konyolku. Heyo Lee Minhyun, siapa kau ini beraninya berpikir kalau kau memiliki stalker? Hahaha, kau konyol Minhyun.

Kruyuk kruyuuk..

Ugh, suara perutku. Aku baru ingat kalau dari siang tadi aku belum makan sesuap pun. Aku mengeluarkan cake sisa yang kubawa dari cafe dan memakannya. Baru satu gigitan saja aku sudah merasa haus. Aku bangkit dari kasurku dan pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air.

Saat aku kembali dari kamarku—

“Hey, siapa yang memakan cakeku?”

—aku menemukan cakeku sudah habis separuh. Pasti ada seseorang memakannya. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Tidak ada siapa -siapa.

Tiba-tiba aku merasakan ada angin yang berhembus lembut di tengkukku.

“Sebenarnya kau sudah tau apa yang ada di rumahmu. Hanya saja kau menyangkalnya dan menolak untuk percaya.”

Aku teringat dengan perkataan Tiffany-ssi siang tadi. Aku sudah tau? Aku menolak untuk percaya?

Aku benar-benar bingung. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Jujur, tentu saja aku takut terhadap apapun yang ada di rumahku ini. Tapi aku merasa penasaran.

Aku menelan ludahku, berusaha menghilangkan ketakutanku.

‘Ayo, Minhyun. Kau pasti bisa. Kau seorang pemberani!’

“A-aku tau k-kau ada di sana.” Suaraku terdengar bergetar karena ketakutan. Oh, ayolah bodoh, keluarkan suara tegasmu. “Perlihatkan sosokmu.” Aku mencoba tersenyum untuk menenangkan diriku.

Lama aku menunggu namun tak ada yang terjadi. Kamarku tetap sunyi dan hanya ada aku sendirian.

“K-keluarlah, percuma kau bersembunyi.” Aku mencoba sekali lagi.

Aku menunggu beberapa saat, namun masih sama saja. Tak ada hal yang terjadi.

Sudahlah, di sini memang tak ada apapun. Paboya. Aku seharusnya tau kalau tidak ada apapun yang harus ditakutkan. Bodohnya aku mempercayai kata-kata Tiffany-ssi.

Aku melemparkan diriku ke kasur. Oh, paboya Minhyun. Pabo! Pabo! Pabo!

Aku memejamkan mataku erat-erat, berusaha melupakan semua hal bodoh yang terjadi hari ini.

Dan saat aku membuka mata,..

-TBC-

Cuplikan Part Depan:

“Pabo, apa yang kau lakukan, hah? Aish, apa kau tau itu tadi ciuman pertamaku? Aish, paboya kau namja jelek!!”

“Dulunya aku juga manusia, sama seperti dirimu dan orang lain. Tapi karena kejadian dua tahun yang lalu aku menjadi seperti ini.”

————————————————————-

AN (Author Note)

Nyiahaha~ *digampar readers*. Akhirnya jadi juga FF nista iniih~ Yah, masih part pertama, apa feelnya udah dapet? Pasti enggak *ditabok readers*. Yah, maklum, author kan masih amatir. Author bisanya ngebayangin gimana kalau abang Kyuhyun nikah sama author *dibunuh readers**hening*….

Iklan

7 thoughts on ““Ghost” | KyuMin | Chap 1/? | No Yaoi | T | Romance, Hurt |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s