“Ghost” | KyuMin | Chap 2/? | No Yaoi | T | Romance, Hurt |

 

Cinta itu buta. Cinta tidak mengenal usia, gender, status, kedudukan, bahkan cinta tidak memperdulikan dirimu yang nyata atau hanya bayang semu.

GHOST

Casts Ó SM Entertainment, JYP Entertainment

by Kim Sun

Warn: typos, SuGen pair, abal, pasaran, OOC

Aku melemparkan diriku ke kasur. Oh, paboya Minhyun. Pabo! Pabo! Pabo!

Aku memejamkan mataku erat-erat, berusaha melupakan semua hal bodoh yang terjadi hari ini.

Dan saat aku membuka mata,..

Sebentuk wajah hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Refleks aku melompat menjauhinya.

“Aaargh!! Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Dan apa-apaan dengan sayap yang ada dipunggungmu itu? Kau habis bermain cosplay, eh?” tanyaku sambil menunjuk-nunjuk benda putih berbulu yang ada di punggungnya.

Mataku memicing menatapnya curiga. Melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seorang namja berpakaian serba putih, rambutnya berwarna kecoklatan dan sedikit keriting, kulitnya putih pucat —terlalu pucat untuk seorang namja— dan yang paling penting matanya. Mata onyxnya yang hitam kelam, dalam dan sangat tajam. Menatapnya seolah kau terserap masuk ke dalamnya.

Namja itu melayang mendekat ke arahku. Hei, dia melayang?

Saat sudah berada di hadapanku,..

Cup~

Dia mengecup bibirku perlahan, hanya dua detik, begitu lembut. Aku hanya dapat mematung diam. Tubuhku mati rasa.

Beberapa detik kemudian aku tersadar dan secara refleks aku mendorong bahunya keras-keras. Namja yang seperti malaikat itu terdorong hingga menabrak tempat tidurku.

“Pabo, apa yang kau lakukan, hah? Aish, apa kau tau itu tadi ciuman pertamaku? Aish, paboya kau namja jelek!!” teriakku frustrasi. Berani-beraninya namja itu memasuki kamarku dan sekarang dia sudah mencuri ciuman pertamaku?! Aish, aku bisa gila!

“Hei yeoja bodoh, apa kau tak tau rasanya menabrak kayu hah? Kau belum pernah mencobanya? Biar kuberitahu padamu. Rasanya, sakit!!” teriak namja itu di depan wajahku.

“Kau yang bodoh! Bagaimana mungkin kau berani mengambil ciuman pertamaku yang selama ini sudah kupertahankan susah payah, hah? Lagipula siapa kau seenaknya masuk ke kamarku?” teriakku sebal.

Aku melihat namja itu menyeringai sesaat. Namja ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana mungkin ia masih bisa menyeringai seperti itu setelah mencuri ciuman pertamaku?

Namja itu melayang ke tempat tidurku dan membelai pipiku. “Cho Kyuhyun imnida. Arwah paling tampan dan digilai para yeoja baik sesama arwah maupun manusia.” Namja itu lagi-lagi menyeringai nakal, membuat wajahnya terlihat semakin—err, tampan.

“Kau, kau yang selama ini mengirimkan surat-surat dan mawar-mawar itu?” tanyaku tidak percaya. Bagaimana mungkin namja, err, arwah namja evil sepertinya bisa seromantis itu?

“Tentu saja pabo!” ujarnya santai.

“Berhenti menyebutku pabo!” teriakku. Arwah namja ini benar-benar menyebalkan. “Dan cepat pergi dari rumahku! Aku tak ingin melihatmu lagi. Ga!!” teriakku sambil mendorongnya keluar dari kamarku.

“Eh, eh, apa yang kau lakukan? Dengarkan aku dulu pabo!” ucapnya sambil berpegangan erat pada pintu kamarku.

“Shirheo!! Cepat pergi!” Aku terus menariknya sampai,..

Bruak!

Ups. Aku jatuh. Tepat di atas namja menyebalkan itu.

Cup~

Lagi-lagi namja itu dengan lancang mencuri ciumanku.

Aku memukul pipi namja kurang ajar itu dan segera bangkit dari posisi yang kurang nyaman itu. “Apa yang kau lakukan hah? Lancang sekali kau!”

Namja itu menepuk-nepuk bajunya. “Lalu aku harus bagaimana? Mengetuk pintu dan berkata, Minhyun, ini aku, aku akan menciummu.’ begitu? Hah, yang benar saja. Pabo!”

“Berhenti menciumku dan berhenti menyebutku pabo. Aku tidak bodoh, pabo! ” ucapku tegas sambil menahan amarah.

Namja bodoh bernama Kyuhyun itu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku yang mendapat sinyal-sinyal buruk segera menutup mulutku dengan tangan agar ia tak bisa menciumku.

“Kalau kubilang aku tak mau, bagaimana?” Namja itu menatapku dalam, membuat jantungku bergedup kencang tak karuan. “Hahaha, pabo! Tak usah setegang itu. Kau ini yeoja yang lucu ya,” ujarnya sambil menepuk-nepuk kepalaku.

Aish, rupanya aku dipermainkan oleh namja sialan ini. Awas saja ya, tunggu pembalasan mautku nanti.

“Apa lihat-lihat?” tanyaku ketus sambil mengalihkan wajahku.

Namja yang mengaku bernama Cho Kyuhyun itu tertawa sambil menepuk-nepuk kepalaku lembut. Sentuhan ini, sentuhan yang sama dengan seseorang yang kutemui di mimpiku waktu itu.

“Kau, err, apa kau yang ada di mimpiku?” tanyaku ragu tanpa menatapnya.

Aku menunggu beberapa saat tapi namja itu tetap diam saja.

“Hei, apa kau tuli hah? Aku bertanya padamu, pabo!” ucapku kesal sambil menoleh kearahnya. Ia sedang duduk di ujung tempat tidurku sambil memandangku tanpa ekspresi. Aku yang jengah dengan tatapannya dapat merasakan wajahku menghangat. Pasti wajahku semerah tomat saat ini.

“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku gugup.

Namja itu menatapku dengan tatapan datar. “Aku ingin menciummu.”

BRUAKK!

Aku menendang namja itu sampai akhirnya ia terjungkal ke bawah.

“Apa maksudmu hah?! Pabo!” Aku memalingkan wajahku untuk menyembunyikan wajahku yang bersemu memerah.

Namja itu bangkit dari posisi bodohnya di bawah sambil mengelus-elus pantatnya yang habis mencium lantai. “Aish, ternyata tenagamu besar juga ya? Mengerikan.”

“Siapa suruh kau berbicara hal bodoh seperti itu.”

Namja itu lagi-lagi menampakkan seringai nakalnya. “Salahkan bibirmu yang begitu manis itu.”

Blush~

Ucapannya membuat wajahku memerah. Namja bodoh itu benar-benar bermulut manis.

“Sudah, lupakan saja hal itu. Sekarang aku punya pertanyaan untukmu,” ucapku sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Namja itu hanya terdiam sambil memperhatikan ucapanku. “Sebenarnya siapa kau ini? Kenapa kau bisa ada di rumahku? Dan kenapa kau bisa melayang seperti hantu?”

Namja itu mendongakkan kepalanya memandang langit-langit kamarku. “Ceritanya panjang, kau sungguh mau mendengarnya?”

Aku memutar bola mataku. Dasar namja bodoh! Aku kan bertanya, jelas aku akan mendengarkan ceritamu. Pabo!

Namja itu menghela nafasnya singkat. “Dulunya aku juga manusia, sama seperti dirimu dan orang lain. Tapi karena kejadian dua tahun yang lalu aku menjadi seperti ini.”

Aku sedikit –hanya sedikit— mendekat ke arahnya. “Memang apa yang terjadi dua tahun yang lalu?”

“Dua tahun yang lalu aku bersama noonaku sedang menghabiskan musim panas dengan berlibur di China. Suatu hari saat aku sedang berjalan-jalan sendirian, tiba-tiba terjadi kecelakaan di depan mataku. Sebuah mobil yang menabrak truk hingga terpental sejauh delapan meter. Semua penumpang mobil itu berhasil menyelamatkan dirinya kecuali seorang yeoja yang kakinya terjepit pintu mobil. Aku segera berlari menyelamatkan yeoja itu hingga akhirnya ia dapat membebaskan dirinya.” Namja itu menghela nafas pelan.

“Tapi aku yang tidak sempat menyelamatkan diriku. Mobil itu sudah meledak sebelum aku berhasil menjauh.”

“Apa kau mati?” Aku mengutuk diriku yang menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.

Namja itu hanya tertawa menanggapi pertanyaanku.

“Awalnya aku juga mengira kalau aku sudah mati. Aku dibawa ke langit untuk diadili seperti arwah-arwah orang yang sudah meninggal lainnya. Tapi ternyata saat itu aku belum ditakdirkan untuk meninggal. Tubuhku masih ada di dunia ini dan tugasku adalah untuk mencarinya agar aku dapat hidup kembali. Malaikat menurunkanku di bumi untuk mendapatkan seseorang yang akan membantuku mencari tubuhku yang hilang itu,” jelasnya.

Aku menganggukkan kepalaku mengerti. “Oke, sekarang aku mengerti. Kau bisa pergi dari rumahku dan silahkan cari seseorang yang akan membantumu. Silakan pergi dan terima kasih atas kunjungannya.” Aku menunjuk pintu seolah-olah memerintahkannya keluar.

Namja itu tak begeming. “Pabo! Orang yang akan membantuku itu kau, bodoh!”

Aku mengerjapkan mataku shock. Dua detik kemudian aku segera menendang tubuhnya keras hingga lagi-lagi ia terjungkal dari tempat tidurku.

“YA! Apa kau gila, hah!? Yang benar saja. Cih.” Aku mendengus kasar kemudian bangkit berdiri meninggalkan namja bodoh itu sendirian.

“Ya, Lee Minhyun. Kau harus membantuku. Ani, kau ditakdirkan oleh Tuhan untuk membantuku menemukan tubuhku,” teriak namja itu sambil mengejarku.

Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya yang memelas. “Shirheo. Aku tidak peduli denganmu dan sama sekali tidak berminat untuk membantumu. Lebih baik kau cari orang lain saja Cho Kyuhyun-ssi.” Itu pertama kalinya aku mengucapkan nama arwah namja itu. Entah kenapa saat mengucapkan namanya ada sesuatu yang seperti mengelitikku.

“Lee Minhyuuun, jebaaal~” Ia memasang puppy eyesnya yang hancur dan malah membuatku semakin tidak berselera untuk membantunya. “Minhyun-ah, aku akan melakukan apapun tapi bantu aku. Waktuku hanya tinggal sembilan belas hari lagi. Jebaaal~” Namja itu berlutut di depanku sambil menautkan kedua tangannya di atas wajahnya yang menunduk. Hh~ kalau sudah begini harus bagaimana lagi?

“Baiklah. Aku akan membantumu.” Satu kalimat yang terlontar dari mulutku sontak membuat Kyuhyun bangkit dari posisi berlututnya dan memandangku dengan wajah berbinar-binar mirip anak kecil. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan namja usil yang baru saja kutemui beberapa saat yang lalu.

“Jinjja?” tanyanya penuh harap.

Aku mengangguk kecil sebagai jawaban. Kyuhyun bergerak untuk memelukku namun gerakannya terhenti saat aku membuka mulutku lagi. “Tapi dengan satu syarat.”

“Mworago?” tanyanya penasaran.

Aku tersenyum penuh arti. “Kau harus menuruti semua perkataanku.”

Namja itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. Tiba-tiba saja ia sudah memeluk tubuhku erat dan menyandarkan kepalanya di bahuku. “Gomawo, Minhyun-ah. Jinjja jinjja jinjja jinjja jinjja gomawo.”

Aku berusaha mendorong tubuhnya yang masih mendekapku erat. Perlakuannya benar-benar membuatku sesak. “Lepaskan aku. Jinjja jinjja jinjja jinjja jinjja apeuda,” ucapku lirih.

Namja itu langsung menarik tubuhnya dan langsung terkekeh aneh. Senyuman –mm, lebih tepatnya lagi seringaian— nakal kembali muncul di wajah tampannya itu.

“Minhyun-ah, aku sangat senang sampai benar-benar ingin menciummu.”

Bletak!

Sebuah sandal rumah yang kulemparkan berhasil dengan sukses mencium jidat lebar Kyuhyun. “Berhenti bicara yang aneh-aneh atau aku tak akan membantumu,” ucapku tajam sembari berbalik meninggalkan namja bodoh itu. Cih, sepertinya setelah ini hidup ‘damai’ku akan segera dimulai.

.

*****

.

Sudah hampir satu minggu namja bodoh bernama Cho Kyuhyun ini terus menempel denganku. Huh, benar-benar parasit. Ucapannya yang akan menuruti semua ucapanku tempo hari benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Bahkan kini aku yang harus menuruti permintaan bodohnya itu.

“Minhyun-ah, aku haus. Bisakah kau membuatkanku secangkir cokelat hangat? Udara terasa sangat dingin,” teriaknya dari ruang tengah rumahku. Aku hanya memutar bola mataku bosan. Lihat, tingkahnya sudah seperti penguasa rumah ini saja. Benar-benar menyebalkan.

“Buat saja sendiri,” ucapku malas.

“Minhyun-ah, apa kau tidak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Aku sedang mengalahkan Raja Mumba-Mumba untuk naik ke level selanjutnya. Setelah itu aku harus menyerang bebera—“

“Kyu, kau kan hantu. Memang hantu perlu minuman?” tanyaku sinis. Aku tau Kyuhyun tidak suka jika aku menyebut dirinya hantu. Ia selalu menyebut dirinya arwah-tampan-yang-mengemban-misi-mulia-dari-Tuhan. Oh, betapa menggelikannya bocah itu?

“Sudah kubilang aku ini bukan hantu.” Tuh kan? Seperti biasa. “Aku ini arwah-namja—“

“Arasseo, arasseo. Aku bosan mendengar ocehan tidak bermutumu itu.” Aku menghela nafas kesal kemudian bangkit dari kasur nyamanku dan segera menuju ke dapur untuk menyiapkan pesanan Yang Mulia Raja Cho Kyuhyun yang Terhormat itu. Cih, namja ini benar-benar menyebalkan.

Aku menarik nafasku dalam-dalam sambil membawa mug kecil berisi cokelat hangat ke ruang tengah, tempat dimana Kyuhyun sedang sibuk menghajar Raja Mumba-Mumba sambil berteriak heboh.

Aku menaruh mug itu di meja kecil di belakang Kyuhyun yang membuat isinya sedikit tumpah dan mengenai tengkuk Kyuhyun. Sontak Kyuhyun segera bangkit dengan heboh sambil memegang tengkuknya yang terasa nyeri karena panas.

“Argh, apa yang kau lakukan? Ini panas, panaas, panaaass~” teriak Kyuhyun heboh sambil berusaha mengipas-ngipas tengkuknya. Aku tekikik geli melihat kelakuannya yang konyol itu.

“Sini, berbaringlah. Aku akan mengobatinya.” Aku menarik tubuh jangkung Kyuhyun dan membaringkannya di sofa. Ia masih terdiam memandangiku yang mengambil kotak obat di sudut ruangan sambil memegang tengkuknya.

“Berbaliklah,” perintahku saat aku sudah berada di sisinya. Ia menuruti perintahku tanpa banyak bicara, tumben sekali.

Aku mengoleskan alkohol ke permukaan kulit tengkuknya yang memerah. “Mian,” kataku menyesal. Yah, walaupun aku sangat kesal dengan Kyuhyun, tapi aku juga salah karena telah melukai tengkuknya.

“Mm, ghwhhaenhchanahhff.” Ucapannya teredam karena wajahnya yang menempel di sofa. Aku menyudahi kegiatan mengobati tengkuknya dan duduk di sofa lainnya.

“Mm, Kyuhyun-ssi, ka—“ Ucapanku terpotong oleh protesnya.

“Berhenti memanggilku dengan sapaan formal begitu Minhyun-ah. Apa kau hanya memanggilku ‘Kyu’ hanya saat kau kesal denganku saja? Kalau begitu aku akan membuatmu kesal sepanjang waktu agar kau berhenti memanggilku dengan sapaan bodoh seperti itu,” rajuknya.

Aku menghela nafas lelah. Aku sedang tidak mood untuk bertengkar dengannya hari ini. “Terserah kau sajalah.”

Kyuhyun menampakkan seringai kemenangan. “Nah, begitu dong. Ayo panggil aku Kyu oppa. Ayo panggil, panggil,” desaknya.

Mwo? Oppa? Cuih, sampai mati pun aku takkan sudi memanggilnya oppa. Apa namja ini benar-benar tidak waras?

“Shirheo.” Aku melemparkan deathglare terbaikku padanya, menyuruhnya untuk menutup mulut bawelnya itu.

“Ish, dasar anak kecil. Kau harus bersikap sopan padaku. Cepat panggil aku oppa!” perintahnya.

Aku melebarkan mataku saat ia menyebutku anak kecil. “Mwo? Siapa yang anak kecil, hah?! Aku ini sudah dua puluh enam tahun!” teriakku jengkel.

“Aigoo~ ternyata kau lebih tua dariku,” gumamnya pelan yang masih dapat kudengar.

“Kau yang harus memanggilku noona!”

“Shirheo! Ming-chagi.” Kyuhyun mengeja kalimat terakhirnya lambat-lambat, membuat wajahku memerah.

“Ya! Siapa yang yang panggil cha-chagi hah?” tanyaku gugup. Aku menundukkan kepalaku sambil memukul-mukul lengannya salah tingkah.

Kyuhyun hanya tertawa menyebalkan melihat tingkahku. “Aigoo, Min-chagi neomu kyeoptaaa~” ujarnya sambil menarik pipiku sampai melar.

“Kyu, hehasskhaan,” perintahku.

Bukan Kyuhyun namanya kalau ia langsung menuruti perintahku. Ia malah menarik pipiku yang satunya lagi. Aish, awas saja ya kalau wajah imutku ini sampe melar. Akan kujadikan makan malam Sun!

“Kyu!” Aku melemparkan sofa bantal ke arah wajahnya dan yap, berhasil. Ia langsung melepaskan tarikannya pada pipiku. “Kyu, ada yang harus kubicarakan denganmu.” Aku mengabaikan tatapan protesnya dan mulai masuk pada pokok pembicaraanku.

MINHYUN POV END

.

.

NORMAL POV

“Kyu, ada yang harus kubicarakan denganmu,” ucap Minhyun tegas sambil mengabaikan tatapan protes Kyuhyun. Wajahnya yang tadi terlihat menyesal kini berubah menjadi serius.

“Hm?” Kyuhyun hanya memberikan respon singkat terhadap ucapan Minhyun.

“Kapan kau akan benar-benar serius mencari tubuhmu? Sudah hampir dua minggu kau berada di sini tapi yang kau lakukan hanya bermain game dan memporak-porandakan kehidupanku. Apa sebenarnya maumu?”

Ucapan Minhyun sukses membuat Kyuhyun terdiam. Otak jeniusnya mencoba mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Minhyun. Kalau dipikir-pikir memang benar, sudah hampir dua minggu ini kerjaannya hanya bermain game, mengerjai Minhyun dan menempel pada yeoja itu kemanapun ia berada. Waktunya yang berharga sudah ia buang dengan sia-sia dan sekarang ia hanya mempunyai waktu lima hari untuk menemukan tubuhnya.

Kalau ia tidak berhasil menemukannya? Hh, jangan harap Kyuhyun dapat melihat dunia yang indah ini lagi. Ia harus berada di langit untuk mengantre gilirannya diadili oleh Tuhan saat gilirannya tiba nanti. Dan Kyuhyun benar-benar tak ingin merasakan hal itu sekarang. Ia masih ingin menikah dan menggapai cita-citanya sebelum benar-benar mati dan mengantre putusan yang akan Tuhan berikan padanya.

“Kyu,” panggil Minhyun lirih. Sepertinya yeoja itu benar-benar kelelahan.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya menatap mata Minhyun yang sayu. “Baiklah, besok aku akan berusaha,” ujar Kyuhyun ambigu. Perkataannya benar-benar memiliki arti ganda, namun Minhyun yang sudah kelelahan memilih untuk mengabaikan ucapan ambigu Kyuhyun dan berjalan memasuki kamarnya. Sepertinya yeoja itu benar-benar perlu istirahat.

.

.

Hari ini Minhyun sudah kembali seperti biasa. Ia kembali mengomel panjang saat mengetahui Kyuhyun sedang mengerjai Sun. Ia menarik paksa Sun yang sedari tadi mengeong keras karena berada di dekat Kyuhyun. Berada di dekat makhluk yang bukan manusia tentu membuat seekor kucing merasa asing bukan?

“Kyu, berhenti menggoda Sun. Aku harus sarapan dan segera berangkat kerja.” Minhyun mengunci Sun di kamarnya lalu berkutat dengan peralatan dapur untuk memasak sarapannya.

“Noona, hari ini kita makan apa?” tanya Kyuhyun dengan wajah yang dibuat seaegyo mungkin tapi yang terlihat malah mengerikan.

Minhyun menatap Kyuhyun risih. “Singkirkan wajah mengerikanmu. Kau bisa merusak nafsu makanku, tau. Dan untuk apa hantu sepertimu sarapan?” ejek Minhyun.

Kyuhyun menggembungkan pipinya sebal. “Ya! Sudah kubilang aku ini bukan hantu. Aku—”

“Arasseo, arasseo tuan arwah tampan dengan misi mulia,” desis Minhyun dengan gigi terkatup. Ia menatap Kyuhyun tajam seolah mengusirnya dari meja makannya.

“Mwo? Kenapa kau memandangku seperti ini? Kau menyukaiku, eh?” tanya Kyuhyun asal yang langsung dibalas semprotan susu dari mulut Minhyun yang terkejut.

Minhyun membersihkan mulutnya yang terkena lelehan susu.”Uhuk, uhuk. Apa kau gila hah? Ckckck.” Ia mendecak sebal sebelum meninggalkan Kyuhyun yang menatap iri ke arah sepiring nasi goreng yang dibawa Minhyun menuju ruang tengah.

“Ya! Noona! Aku membutuhkan nutrisi untuk ketampananku! Ya! Berhenti kau Lee Minhyun, aku mau makan! YA!” teriak Kyuhyun heboh karena Minhyun tak mengacuhkannya.

Kyuhyun segera berlari mengejar Minhyun yang sudah duduk manis menikmati sarapannya. “Ya! Ming noona kenapa kau habiskan? Aku makan apa? Huwee, eommaa, anakmu ditelantarkaaan~” ucap Kyuhyun (sok) nelangsa.

Minhyun hanya melirik aneh ke arah Kyuhyun tanpa menghentikan aktivitas sarapannya. “Eng, Kyu. Belakangan ini aku tidak melihat sayapmu lagi. Kau juga tidak muncul tiba-tiba seperti dulu.” Perkataan Minhyun sama sekali bukan pertanyaan. Ia hanya bicara asal saat melihat bagian belakang tubuh Kyuhyun yang polos tanpa sepasang benda putih berbulu itu.

Kyuhyun bergerak-gerak gelisah. “Yah, semakin sedikit waktuku, semakin banyak hal yang menghilang dariku.” Ia menarik nafas panjang, berat, dan lelah. “Hari ini aku ikut ke tempat noona bekerja ya? Barangkali aku bisa melihat yeoja dengan rok mini itu. Ya? Ya? Yaaa?”

Ucapan Kyuhyun membuat Minhyun tersedak. “Ya! Apa maksudmu hah? Dasar pervert!” Minhyun memukulkan sendok yang ia pegang ke kepala Kyuhyun.

“Apeuda~” Kyuhyun mengusap-usap jidat lebarnya yang habis terkena jitakan ‘manis’ sang sendok. Ia mengerucutkan bibirnya sebal. “Pokoknya aku ikut ke tempat noona bekerja. Di sana banyak yang sekseeeh~.”

Minhyun mendecih mendengar ucapan (sok) innocent Kyuhyun. “Kau bersikap seakan-akan aku tidak pernah membawamu ke tempat kerja. Nyatanya kau bahkan menempel padaku hampir dua puluh empat jam sehari,” desis Minhyun tajam. Ia melengos pelan sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun. “Kajja.”

Kyuhyun menyeringai senang karena Minhyun mengajaknya. Dengan begitu, ia bisa terus menggoda Minhyun sampai pipi chubby itu bersemu merah. Selain itu ia juga bisa menikmati tatapan kagum para yeoja karena ketampanannya—yah walaupun sosok Kyuhyun yang dilihat orang berbeda dengan sosoknya yang asli.

NORMAL POV END

-TBC-

Cuplikan Part Depan:

“Geu yeoja,.. adalah yeoja yang kuselamatkan dua tahun yang lalu.”

“Aish, mianhaeyo. Aku hanya terlalu terkejut. Bisa-bisanya Victoria-ssi melakukan hal seperti itu pada manusia yang masih hidup?”

“Apa yang kalian lakukan terhadap Kyuhyun-KU!?”

————————————————————-

AN (Author Note)

Annyeong~ *tebar bunga* Maaf FFnya kurang seru, nggak dapet feelnya, bosenin, bikin ngantuk, miaaaaaaaan *bow 90 derajat*.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s