“Ghost” | KyuMin | Chap 4/? | No Yaoi | T | Romance, Hurt |

Cinta itu buta. Cinta tidak mengenal usia, gender, status, kedudukan, bahkan cinta tidak memperdulikan dirimu yang nyata atau hanya bayang semu.

GHOST

Casts Ó SM Entertainment, JYP Entertainment

by Kim Sun

Warn: typos, abal, pasaran, OOC

NORMAL POV

Malam semakin larut, namun rupanya sepasang mata indah itu masih belum mau tertutup. Minhyun—pemilik mata indah tersebut—hanya dapat mengguling-gulingkan badannya gelisah di atas kasur. Bayangan kejadian sore tadi, saat Kyuhyun tiba-tiba menyatakan cinta padanya kembali berputar dibenaknya.

Sreeek.

Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sesosok namja rupawan dengan balutan piama yang menempel di tubuhnya. Namja itu sedang mengeringkan rambut brunettennya menggunakan handuk putih yang melingkar di lehernya.

“Kau belum tidur?” tanya Kyuhyun, mengambil posisi duduk di atas sofa yang ada di kamar itu.

Minhyun mencibir pertanyaan bodoh Kyuhyun. “Kau hantu, untuk apa mandi?”

“Aish, sudah kubilang berulang kali kalau aku ini bukan hantu! Aku ini arwah—“

“Ara!” potong Minhyun kesal.

“Yah, semakin sedikit waktuku aku juga semakin menyerupai manusia biasa. Kau tau? Bahkan sekarang aku tidak bisa menampakkan wujudku di depan orang lain lagi. Haah~ benar-benar akan berakhir,” desah Kyuhyun lemas. Matanya menerawang ke atas, menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu.

Minhyun tertegun melihat pemandangan di depannya. Baru kali ini ia melihat Kyuhyun yang biasanya usil, evil, hiperaktif, dan cerewet itu tiba-tiba menjadi sosok yang begitu rapuh dan lemah.

“Kyu, percayalah. Kau akan menjadi manusia lagi,” ucap Minhyun lirih, mencoba menguatkan namja yang terlihat rapuh itu.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia berbaring di sofa dengan posisi membelakangi Minhyun.

‘Bukan itu yang kukhawatirkan. Aku hanya takut, saat aku menjadi manusia nanti kita tidak akan bisa bertemu dan kau akan melupakanku,’ batin Kyuhyun dalam hati.

Satu jam berlalu namun yeoja berparas cantik itu masih belum dapat memejamkan matanya. Saat ini sudah lewat tengah malam dan tidak ada yang bisa dilakukannya.

Minhyun membalik tubuhnya menghadap ke kanan. Sudah puluhan kali ia mengganti posisi tidurnya, namun ia tidak juga terlelap.

Minhyun menutup matanya rapat. Ia memutuskan untuk menghitung domba-domba. ‘Satu domba, dua domba, tiga domba, eh, domba yang itu sudah kuhitung belum ya? Aish, bagaimana aku bisa menghitung domba-domba itu kalau mereka terus bergerak?’

Yeoja cantik itu mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Ia melirik Kyuhyun yang tengah berbaring membelakanginya di sofa. Di lihat dari punggungnya yang bergerak naik-turun dengan teratur sepertinya namja itu sudah tertidur.

Ia menyibakkan selimutnya dan berjalan menghampiri Kyuhyun. Sesaat Minhyun tampak ragu, namun ia segera mengambil posisi berbaring di belakang Kyuhyun sambil memeluk punggung lebar itu untuk pertama kalinya.

Mungkin baru pertama kali Minhyun menyadarinya –atau mungkin sebelumnya ia sudah menyadarinya namun mati-matian menyangkal—bahwa ia selalu merasa nyaman berada di dekat Kyuhyun. Saat ada masalah yang menimpanya, hanya dengan melihat Kyuhyun ia sudah bisa meringankan bebannya dan kembali tertawa. Bahkan walaupun Kyuhyun seringkali bersikap menyebalkan dan kekanakan, Minhyun menyukai setiap detik bersama Kyuhyun. Mungkinkah, Minhyun sudah jatuh cinta pada arwah namja itu?

Setetes air mata jatuh dari ujung mata kiri Minhyun. Ia teringat pada kejadian sore tadi, saat Kyuhyun tiba-tiba menyatakan perasaannya padanya. Sebenarnya, dalam hati Minhyun merasa senang karena mengetahui bahwa Kyuhyun menyukainya. Ia pun juga merasakan perasaan yang sama dengan Kyuhyun. Namun ia khawatir jika nanti Kyuhyun sudah menjadi manusia Kyuhyun akan melupakannya dan melupakan rasa sukanya pada Minhyun. Ia begitu takut.

“Kyuhyunnie,” panggil Minhyun lirih. Itu adalah pertama kalinya Minhyun memanggil Kyuhyun seperti itu. “Aku.. takut.” Minhyun mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun seakan melarang namja itu pergi darinya. Kristal-kristal bening yang tadi ia tahan mulai meluncur dengan deras menuruni pipi chubbynya seiring dengan keluarnya isakan-isakan dari mulutnya.

.

.

Kyuhyun sama sekali tidak bergerak, namun kedua mata kelamnya masih terbuka dengan lebar. Ia sedang memikirkan perasaannya pada Minhyun saat tiba-tiba ia merasa ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang.

“Kyuhyunnie,” panggil Minhyun sambil membenamkan wajahnya di punggung lebar Kyuhyun. Minhyun menangis dan Kyuhyun tau itu. Suara Minhyun bergetar saat menyebut namanya dan ia merasakan sesuatu yang basah di punggungnya.

Ingin rasanya Kyuhyun berbalik dan memeluk sosok rapuh itu. Namun apa daya, jika ia berbalik ia takut Minhyun akan pergi dari sisinya dan kembali menjadi Minhyun yang tidak memperdulikannya.

Kyuhyun dapat mendengar dengan jelas nafas Minhyun yang terputus-putus karena isak tangis yang ia tahan. “Aku.. takut,” ucap Minhyun lirih di sela-sela tangisnya. Sungguh Kyuhyun tak tega membiarkan Minhyun menangis seperti itu. Ia memang tidak tahun alasan mengapa Minhyun merasa takut, namun ia sama sekali tidak ingin Minhyun merasa ketakutan.

‘Andai kau mau menganggapku sebagai namja, bukan sebagai arwah yang meminta pertolongan,’ batin Kyuhyun miris.

Isak tangis Minhyun semakin mereda berganti dengan hembusan teratur nafasnya. Kyuhyun yang yakin kalau Minhyun sudah terlelap membalikkan badannya dengan perlahan seolah tak ingin membangunkan yeoja itu. Ia merapikan poni Minhyun yang menjuntai menutupi dahinya dan mengusap air mata yang masih membekas di pipi yeoja itu.

“Lee Minhyun,” panggil Kyuhyun lirih. Ia tak berniat membangunkan yeoja itu. Ia hanya ingin menyebut nama Minhyun, nama yeoja yang telah mencuri hatinya.

Perlahan, Kyuhyun menyelipkan tangan kanannya di bawah bahu Minhyun dan tangan kirinya di bawah lutut. Ia bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menuju kasur dengan tubuh Minhyun yang menempel di tubuhnya. Ia membaringkan Minhyun dengan hati-hati di kasur dan mengecup kening yeoja yang tengah tertidur itu.

“Jal jayo, Ming noona,” ucapnya perlahan.

.

.

Malam telah berlalu dan pagi pun menjelang. Seorang yeoja yang masih tertidur akhirnya terbangun akibat ketukan di pintu kamar. Minhyun mengucek-ngucek mataknya sesaat sebelum menyingkap selimutnya dan turun dari kasur. Saat ia membuka pintu tampak di hadapannya Nickhun yang sudah terlihat segar sedang tersenyum ke arahnya.

“Selamat pagi, Minhyun-ah,” sapa Nickhun hangat. Ia sedikit tertawa kecil melihat penampilan Minhyun yang masih berantakan. Tangan Nickhun bergerak untuk membantu merapikan rambut Minhyun yang masih acak-acakan.

“Ah, selamat pagi, Oppa. Mian, aku baru bangun tidur. Hehe.”

Nickhun tersenyum simpul. “Cepat mandi dan sarapan. Aku punya berita bagus untukmu,” ucap Nickhun sesaat sebelum ia pergi dari hadapan Minhyun.

Tak berminat mengulur waktu, Minhyun segera menutup pintu kamarnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Tak lama kemudian, yeoja itu sudah berpakaian rapi dan terlihat segar. Ia mematut dirinya di cermin sekali lagi sebelum melangkah keluar untuk sarapan bersama Nickhun oppa.

Minhyun mendekati Nickhun yang sedang sibuk mengatur sarapan di meja makanan. “Oppa, ada yang bisa kubantu?”

Nickhun tersenyum melihat kedatangan Minhyun. “Ani, ini sudah selesai. Ayo scepat selesaikan sarapan. Aku punya berita yang benar-benar bagus untukmu,” ucap Nickhun sambil tersenyum misterius.

Mereka berdua sarapan sambil berbincang ringan dan sesekali tertawa karena lelucon yang mereka lontarkan. Akhirnya sarapan mereka habis dan Minhyun membantu Nickhun merapikan piring-piring kotor bekas makan mereka.

“Oppa, jadi apa berita bagus yang oppa punya?” tanya Minhyun di sela-sela kegiatan mencuci piring.

“Kemarin malam salah satu temanku menelponku dan mengundangku dan Victoria untuk menghadiri pesta pertunangannya. Pesta itu akan diadakan malam ini,” terang Nickhun sambil membasuh piring yang disodorkan Minhyun.

“Lalu?”

“Kalau aku dan Victoria menghadiri pesta itu, otomatis laboratorium tempat penyimpanan tubuh Kyuhyun akan lepas dari penjagaan Victoria yang super ketat itu. Jadi kau bisa pergi ke sana dan melihat Kyuhyun. Siapa tahu kedatanganmu bisa membuat Kyuhyun menjadi sadar, yah seperti yang ada di drama-drama itu,” tutur Nickhun asal.

Minhyun tertawa geli mendengar ucapan konyol Nickhun.

‘Kyuhyun..’ batin Minhyun. Ia baru menyadari kalau sejak ia membuka mata hari ini, ia sama sekali belum melihat batang hidung namja evil itu. Kemanakah gerangan ia?

Tanpa sepengetahuan Nickhun, Minhyun menyelipkan dua potong roti ke dalam saku hoodienya.

‘Nickhun oppa, mian aku harus mencuri rotimu. Kyuhyun, kau membuatku harus mengambil roti secara ilegal. Saat kau menjadi manusia nanti kau harus membayarnya padaku.’

Setelah selesai mencuci piring, Nickhun terlihat terburu-buru pergi. Mau menemui Victoria katanya. Ck, dasar. Bilang saja kalau kangen .-.

Sementara itu Minhyun masuk ke dalam kamarnya sambil memegang dua potong roti ilegal itu erat-erat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan namun tak juga melihat tanda-tanda keberadaan Kyuhyun.

“Kyu, di mana kau?” Minhyun berbicara sendiri mengira Kyuhyun akan menjawab pertanyaannya seperti biasanya. Namun tak ada jawaban.

“Kyu?” panggil Minhyun sekali lagi.

Setelah beberapa saat menunggu namun Kyuhyun tidak muncul-muncul, akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan melihat tv. Namun saat ia membuka pintu kamar, ia dikejutkan oleh wajah pucat Kyuhyun yang terlihat seperti mayat.

“Omo! Kyu, kau mengagetkanku.”

Kyuhyun bergeming. Ia masuk ke dalam kamar yang ditempati Minhyun tanpa sedikitpun menggubris Minhyun yang terus bermonolog mengomelinya. Bahkan, melirik yeoja itu pun tidak Kyuhyun lakukan.

Minhyun merengut sebal karena tidak diacuhkan oleh Kyuhyun. Ia berjalan mendekati Kyuhyun sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. “Kau tidak mendengarkanku?” tanyanya kesal.

Kyuhyun tetap diam dan memilih berbaring di sofa dan menutup matanya.

“Cho Kyuhyun,” desis Minhyun gusar. Ia beringsut ke arah Kyuhyun dan menyodorkan potongan roti yang ia simpan. Melihat Kyuhyun yang tidak menunjukkan reaksi apapun, Minhyun menyodok-nyodokkan potongan roti itu ke pipi tirus Kyuhyun. “Makanlah. Aku sudah repot-repot mengambil roti itu secara ilegal dari Nickhun oppa, kau tau? Kalau kau sudah menjadi manusia, kau harus membayar semua bantuanku padamu, Cho Kyuhyun.”

Minhyun terus menyodok-nyodok pipi Kyuhyun dengan ujung roti yang tumpul, namun Kyuhyun masih bergeming. “Cho Kyuhyun! Cepat makan! Aku sudah terlanjur mengambil roti ini jadi kau harus memakannya.”

Tiba-tiba Kyuhyun membuka matanya dan menahan tangan Minhyun yang masih sibuk dengan kegiatan ‘mari-sodok-pipi-Kyuhyun-dengan-roti’nya. Kyuhyun menatap Minhyun tajam yang membuat Minhyun menciut.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengambil roti ini. Jadi jangan paksa aku makan.” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Kyuhyun tadi itu terasa begitu menusuk Minhyun.

Minhyun menghela nafas pelan, mencoba bersabar dan menyingkirkan rasa kesalnya jauh-jauh. “Kyu, aku punya berita bagus untukmu. Kata Nickhun oppa mala—“

Kalimat Minhyun terputus saat Kyuhyun tiba-tiba berdiri dan sedikit mendorong tubuh Minhyun agar menyingkir.

“Aku tidak mau tau. Jangan berbicara padaku, aku muak.” Kyuhyun berkata tajam sebelum ia meninggalkan Minhyun sendirian yang masih terpaku di tempatnya. Ia berusaha mencerna kalimat Kyuhyun barusan dan saat memahami maksudnya, sebutir kristal turun dari mata Minhyun.

“Nappeun nam!” gumam Minhyun disela-sela isak tangisnya.

.

.

.

Kyuhyun berjalan meninggalkan Minhyun yang tampak terkejut dengan ucapannya. Setelah berada di luar kamar, Kyuhyun segera menyandarkan tubuhnya di dinding dan mencengkram dada kirinya seolah ingin meremas jantung di dalamnya. Jika boleh jujur, sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti Minhyun dengan ucapannya.

Namun saat mengingat sisa waktunya—yang bahkan bisa dihitung menggunakan jari tangan dan jari kaki—membuat Kyuhyun berbuat seperti itu. Ia ingin Minhyun membencinya dan dengan mudah melupakannya. Ia tidak ingin membuat yeoja yang disukainya itu menderita nantinya.

“Kau tidak menyesal?” tanya sebuah suara dari ujung ruangan. Sosok itu melayang rendah dari lantai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menggunakan pakaian serba putih yang sesuai dengan rambut pirangnya yang tertata rapi. Sinar yang menyelimuti sosok itu menambah kerupawanannya.

“Nugu?” tanya Kyuhyun saat ia sudah bisa mengatur emosinya.

Sosok itu melayang mendekat ke arah Kyuhyun. Ia tersenyum sehingga menunjukkan lesung pipit di sudut bibirnya. “Leeteuk imnida. Angel Without Wings yang dikirim Tuhan untuk menjemputmu,” ucapnya dengan tenang.

Kyuhyun terperangah mendengar ucapan namja yang mengaku bernama Leeteuk itu. Menjemputnya? Bukankan Kyuhyun masih memiliki waktu beberapa jam lagi? Tapi kenapa Tuhan sudah mengutus malakat untuk menjemputnya?

Leeteuk lagi-lagi tersenyum manis. “Aku tau, kau pasti kebingungan mengapa Tuhan sudah mengirimku untuk menjemputmu padahal kau masih memiliki waktu beberapa jam lagi.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Hebat juga malaikat ini bisa membaca pikirannya.

“Aku hanya membantumu dan menemanimu. Kalau kau bisa mendapatkan tubuhmu maka aku akan kembali ke langit. Tapi kalau tidak, yah, kau tau sendiri lah. Aku harus mengantarmu—atau bahkan membawa paksa—dirimu untuk dibawa ke langit. Setelah itu riwayatmu sebagai Cho Kyuhyun benar-benar selesai,” terang namja itu.

Kyuhyun lagi-lagi terdiam. Ia tidak tahu harus memberikan respon apa terhadap malaikat tanpa sayap di hadapannya ini.

“Kau bisa mengabulkan permintaan terakhir?” tanya Kyuhyun pada akhirnya.

Leeteuk tersenyum. “Ye.”

Kyuhyun terlihat berpikir sesaat, ragu-ragu akan mengatakannya atau tidak. “Kau bisa mengabulkan permintaan terakhirku?”

“Ye. Hanya satu permintaan.”

“Kumohon, buat Minhyun bahagia jika nantinya aku benar-benar pergi. Hapus kenangan tentangku dari ingatan Minhyun. Aku ingin dia melupakanku dan melanjutkan hidupnya dengan tenang.” Kyuhyun berkata dengan tegas sambil menatap mata Leeteuk.

Leeteuk terdiam beberapa saat namun senyuman manisnya masih terlihat di bibirnya. “Baiklah,” ucapnya pada akhirnya.

Kyuhyun menghembuskan nafas lega. ‘Minhyun-ah, mianhae. Jeongmal mianhae, aku harus melakukan ini.’

.

.

.

Waktu terus bergulir seiring setiap detik yang berjalan. Sisa waktu yang dimiliki Kyuhyun hanya tinggal dua jam lagi. Namja itu sengaja menghindari Minhyun dengan cara berkeliaran tanpa arah di luar padahal saat ini salju pertama baru saja turun.

“Aigoo, bumi itu dingin sekali ya? Apalagi saat benda putih ini menyentuh kulit,” keluh Leeteuk yang berjalan di samping Kyuhyun. Seharian ini malaikat itu terus-menerus mengikuti Kyuhyun kemanapun namja itu pergi.

“Waktumu tinggal satu jam lima puluh delapan menit. Apa kau tidak ingin bertemu dengan yeoja itu? Sekedar mengucapkan selamat tinggal mungkin?” saran Leeteuk yang dibalas Kyuhyun dengan gelengan kepala.

“Aku tidak ingin melihat yeoja itu menangis karena kepergianku,” gumam Kyuhyun lirih.

Leeteuk yang mendengar ucapan Kyuhyun hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Apa kau begitu menyukai yeoja itu?”

Kyuhyun terdiam sesaat. “Ani. Aku tidak menyukainya, aku mencintainya.” Ia merasa dadanya berdesir pelan saat ia berkata bahwa ia mencintai Minhyun. Ya, perasaannya tidak berbohong.

.

.

Nickhun sudah pergi sejak tiga jam yang lalu dan saat ini jarum pendek sudah menunjuk angka sepuluh. Minhyun benar-benar merasa kalut. Sejak siang Kyuhyun menghilang dan ia tidak tau apa yang harus dilakukan. Sisa waktu Kyuhyun kurang dari dua jam dan Minhyun benar-benar ingin Kyuhyun menjadi manusia.

“Aish, kemana perginya namja itu?” gumam Minhyun sambil berjalan mondar-mandir di apartemen Nickhun yang kosong itu.

KLING KLONG.

Suara pintu apartement yang terbuka membuat Minhyun menghentikan aktivitas mondar-mandirnya dan menatap pintu apartement dengan tatapan berharap. Ia berkomat-kamit berdoa agar yang muncul adalah Kyuhyun. Dan benar saja, dari balik pintu itu yang muncul adalah seorang namja berambut brunette yang sejak tadi ia nanti.

“Kyu! Kau membuatku panik. Kemana saja kau seharian ini? Ayo, kita harus segera pergi ke laboratorium tempat tubuhmu,” cerocos Minhyun sambil memegang lengan Kyuhyun yang hampir membeku.

“Shirheo.”

Minhyun terkejut mendengar jawaban Kyuhyun. “K-Kyu? Waeyo?” tanya Minhyun terbata.

“Lupakan saja, toh sebentar lagi aku benar-benar akan mati.” Kyuhyun menekankan kata terakhirnya yang membuat Minhyun merasa sedih.

“Ani, Kyu. Kau pasti bisa hidup lagi, percayalah padaku.” Minhyun berusaha meyakinkan Kyuhyun namun namja itu hanya membuang tatapannya menolah kontak mata dengan Kyuhyun.

Kyuhyun tetap bergeming dan menolak menatap Minhyun. Tiba-tiba Minhyun menarik kerah bajunya dan mencium bibir pucat Kyuhyun. Hanya sebentar, benar-benar sebentar. Minhyun sengaja melakukannya untuk meyakinkan Kyuhyun.

Kyuhyun masih terbelalak tidak percaya atas apa yang baru saja Minhyun lakukan. Minhyun menciumnya duluan. Walaupun hanya sekedar menempelkan bibir, tapi Minhyun yang menciumnya.

Entah mengapa Kyuhyun merasakan tubuhnya serasa melayang. Jantungnya berpacu berknot-knot lebih cepat saat melihat mata Minhyun yang memancarkan ketulusan.

“Kyu, jebaal..” Genangan air mulai muncul di pelupuk mata Minhyun. Kyuhyun menatap mata Minhyun dalam, mencoba mencari kekuatan dari sepasang mata yang tertutup air mata itu.

Keheningan menyelimuti selama beberapa saat. Kyuhyun dan Minhyun masih sibuk saling manatap, mencoba mencari kekuatan dan saling menyemangati.

“Ehem. Waktu yang tersisa satu jam enam menit,” ucapan Leeteuk menginterupsi dua sejoli itu dan menghadapkan mereka pada kenyataan.

“Kyuhyun, ppalli!” teriak Minhyun sambil menarik paksa tangan Kyuhyun.

Mereka melaju dengan kecepatan tinggi membelah gemerlap malam. Minhyun terus-terusan menggumamkan doa sepanjang perjalanan dan matanya menatap nyalang ke arah bangungan-bangunan yang mereka lewati.

Sementara itu, Kyuhyun terus-terusan memandangi wajah panik Minhyun—untuk yang terakhir kalinya.

Sesampainya di gedung laboratorium itu, mereka segera berlari menuju ruangan tempat tubuh Kyuhyun berada. Sekali dua kali Minhyun tersandung dan hampir menabrak orang-orang yang masih berada di laboratorium itu.

Minhyun segera membuka pintu cokelat itu dan terburu-buru berlari menuju pintu besi selanjutnya. Ia memencet-pencet tombol yang berada di sebelah kanan pintu itu.

‘Satu-tiga-lima-sembilan-tujuh—aigoo! Selanjutnya angka berapa?’ batin Minhyun panik. Tangannya bergerak-gerak liar di atas tombol-tombol angka.

“Sisa waktu tiga menit lebih empat puluh lima detik,” ucap Leeteuk dari belakang.

Ucapan Leeteuk benar-benar membuat Minhyun gugup. Sudah berulang kali Minhyun salah menekan tombol karena tangannya gemetaran. Kyuhyun yang melihatnya sontak menggenggam tangan Minhyun. Ia meremasnya perlahan, mencoba memberi kekatan pada yeoja itu.

Kyuhyun mengangkat tangannya untuk menekan tombol-tombol angka itu. Satu-tiga-lima-sembulan-tujuh-satu. Pintu tersebut mengeluarkan sedikit asap dan perlahan terbuka. Belum sampai pintu itu membuka seutuhnya, Minhyun sudah menarik tangan Kyuhyun memasuki ruangan selanjutnya.

Mereka berlari menuju pintu selanjutnya dan melakukan hal yang sama. Pintu itu terbuka lebih lambat dari pintu sebelumnya.

“Sisa waktu satu menit kurang lima belas detik.”

Minhyun segera mendorong pintu itu tidak sabar. Ia mulai menangis saat Leeteuk mulai menghitung mundur mulai dari dua puluh namun pintu itu belum terbuka.

“Empat belas, tiga belas, dua belas—“ Leeteuk terus menghitung mundur saat pintu tersebut sedikit terbuka hingga cukup untuk satu orang masuk. Minhyun segera mendorong Kyuhyun memasuki ruangan itu. Namun sayang, karena penerangan yang minim dan banyaknya kabel yang berserakan di lantai membuat Kyuhyun terjatuh dan kakinya terbelit kabel.

“Tujuh, enam, lima—“

“Ppalli Kyu!” teriak Minhyun gusar sambil menarik paksa kabel-kabel yang melilit kaki Kyuhyun.

“Empat, tiga, dua—“

Kyuhyun segera bangkit dan berlari menuju tabung kaca besar di tangah ruangan. Ia masih sempat menoleh untuk melihat wajah Minhyun terakhir kalinya.

‘Selamat tinggal Lee Minhyun. Saranghae..’

“Satu.”

SPLAAASH!

Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan memancar dari tubuh Kyuhyun yang berada di dalam tabung berisi cairan pengawet itu. Minhyun terjatuh dalam posisi berlutut sambil menangisi Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun, selamat tinggal,” bisik Minhyun lirih di sela isak tangisnya.

-TBC-

Cuplikan Part Depan:

“Apa kau sudah tidak sabar ingin segera bertunangan denganku, Kyuhyunnie?”

“Cho Kyuhyun. Apa yang sudah ia lakukan padamu sampai kau seperti ini?”

————————————————————-

AN (Author Note)

Annyeong~ Yang mau geplak author silakan. Author relaaa~ Iya-iya, author tau kalau FF ini emang abal. Iya-iya, author tau kalau author ini amatir.

Oya, author juga post FF ini di Super Junior Fanfiction loh. Kalau mau lihat silakan cek di pagenya sendiri ya. Dan author terharuuuuu banget atas apresiasinya.

Oya lagi, untuk sementara author hiatus dulu ya, sampe liburan aja kok. Author kan masuk kelas akselerasi, jadi kalau nggak rajin belajar bisa di drop out dengan tidak elit. Makanya itu readers sekalian doakan author biar author nggak di drop out ya. Nanti kalau udah liburan author bakal usahain FF ini selesai. Makanya, reader yang sabar yaaa..

Oya lagi lagi, bentar lagi author bakal bikin FAQnya FF ini. Request temen author. Yah, nggak masuk chapter sih, dan mungkin nggak bakal author tempatin di author note karena ada banyak pertanyaan yang perlu author jawab. Sebagai selingan gitu. Reader juga boleh ngumpulin pertanyaan kok 🙂 Author bakal usahain buat jawab.

Iklan

10 thoughts on ““Ghost” | KyuMin | Chap 4/? | No Yaoi | T | Romance, Hurt |

  1. Pasti yg tunangan itu vict ma kyu
    Minhyun patah hati???
    Jgn2 slh satu dri mereka ingatannya hilang lagi?Andwee!!!

  2. sial ya -_- udah keduluan fasya, sekarang alya yo aksel (˙▿˙”) weee teruskan.. tp kok yang ini….. Nichkhunku makin dikitt uwaaa. Alll.. aku kan masih baru jd kpopers, boleh dong yg bhs Korea ada translatenya 😀

    Ayooo semangat ngepost semanga aksel :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s