“You’re Mine” | Chap 1/? | KyuMin | No Yaoi | T | Romance, Hurt |

WARNING: Cerita ini lumayan menyinetron dan banyak cast dengan nama yang sulit dihafal bertebaran di mana-mana. Kalau readers nggak suka cerita yang terlalu ‘mendramatisir’, silakan tutup halaman ini. Tidak dianjurkan untuk memaksakan diri ^^

Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku mencintai semua hal yang ada dalam dirinya. Aku mencintainya sejak saat pertama kali aku melihatnya. Aku mencintainya dulu, sekarang, dan semoga nanti.

YOU’RE MY

.: Chapter 1 :.

A Super Junior Fanfiction by Park Min

“Oppa, ayo cepat bangun. Kau bisa terlambat sekolah!” teriak seorang yeoja mungil berambut pirang sambil menggedor pintu kamar oppanya dengan membabi-buta.

Saat tak ada reaksi dari oppanya, yeoja itu kembali menggedor-gedor pintu kamar. Poor the door.. “OPPA!! AKU HITUNG SAMPAI TIGA CEPAT BANGUN! KALAU KAU TIDAK BANGUN AKU DOBRAK PINTUNYA NIH!!” teriaknya nyaring. “Hana, dul,..” Yeoja itu sudah memasang kuda-kuda untuk membuka pintu kamar oppanya itu. “Set. Hiaaaattt!!” Yeoja itu menubrukkan tubuhnya ke pintu ketika–

BRUAKK!!

–oppanya juga membuka pintu. Jadilah mereka berdua jatuh tersungkur di lantai dengan sangat tidak elit.

“Hyaaa… Oppaaa, sakit!! Hidung indahku tersayang,” teriak yeoja itu sambil mengusap-usap hidungnya yang membentur bahu oppanya itu.

“Akh… Lagian salahmu teriak-teriak pagi-pagi buta begini. Aku masih ngantuk tau,” ucap namja putih itu sambil membantu yeodongsaengnya berdiri.

“MWO?! Ini bukan pagi-pagi buta oppaaa.. INI SIANG BUTA!!” teriak yeoja itu sambil memukul bahu oppanya pelan.

“Minnie-ah. Sekarang masih jam tujuh pagi. Santai saja,” ucap namja itu santai sambil berjalan pelan menuju tempat tidurnya untuk kembali melanjutkan kegiatan tidurnya yang sempat tertunda. Baru dua detik namja itu berbaring, sontak ia kembali duduk dengan tatapan kaget. “MWO?! JAM TUJUH?! Bisa telat aku. Gyaaaa ~ Minnie-ah, kenapa tidak membangunkan aku sih?”

Yang ditanya hanya mencibir. “Dari pagi aku sudah gedor-gedor pintu tapi oppa nggak bangun-bangun juga. Pokoknya kalau oppa terlambat jangan salahkan aku. Makanya jangan main game sampai larut malam begitu.  Aku berangkat duluan.  Dadah Kyunie oppa,” seru Minhyun riang sambil mencium pipi oppanya sekilas.

“MINNIE!!!”

…..

.: Kyuhyun pov :.

Aku menendang kerikil yang ada di depanku. Huh, gara-gara Minnie tadi pagi tidak membangunkanku, sekarang aku terlambat dan diusir dari kelas. Huweee ~ Malangnya nasibku ~

Aku menatap ke arah lapangan. Saat ini kelas Minnie sedang ada pelajaran olahraga. Huh, daripada bosan lebih baik aku ganggu mereka saja. Ide bagus Cho Kyuhyun, kau memang jenius. Aku menampakkan evil smileku yang mampu mengguncang dunia dan berjalan mendekati mereka.

“Ehem,” dehemku keras. Sontak yeoja-yeoja teman Minnie histeris ketika melihat kehadiranku. Haha, aku benar-benar jenius dan terkenal.

“Oppa kenapa ada di sini? Ahaa, aku tau, pasti oppa diusir dari kelas gara-gara terlambat ya?” goda Minhyun sambil terkikik kecil. Sontak seluruh yeoja teman-temannya ikut tertawa.

“Apaan sih? Jangan bocorin aib orang sembarangan kenapa? Lagian aku terlambat juga gara-gara kau tau!” Aku menoyor kepala Minhyun pelan.

Ia hanya mencibir sambil kembali berjalan ke tengah lapangan. “Cih, alasan..”

Mendengar ucapan sadis dongsaengku yang biasanya bersikap manis itu, tanganku jadi gatal ingin menjitaknya. Tapi kalau aku menjitaknya di depan teman-temannya, bisa jatuh image cool dan gentle ku. Aish, awas aja Minhyun, rasakan pembalasan sang raja evil saat di rumah nanti.

Aku berjalan menuju sebuah pohon rindang dan berniat tidur dibawahnya. Di sini hawanya sejuk sekali. Menyenangkan.

Tiba-tiba sebuah bola voli menggelinding ke arahku. Aku memandang seorang yeoja yang menunduk di hadapanku.

“Bolanya, oppa,” ucapnya lirih.

Aku mengambil bola itu dan memegangnya dengan satu tanganku. Oh, temannya Minnie toh. Tapi siapa namanya ya? Biasanya aku hapal nama-nama yeoja di sekolah. Maklumlah, otak jeniusku ini kan kapasitasnya besar. “Siapa namamu?” tanyaku.

“Bolanya, oppa,” ulang yeoja berpipi tambun itu. Ish, aku kan bertanya padanya, kenapa dia tak menjawabku sih?

“Aku bertanya padamu, hobae. Jawab aku dulu baru aku akan memberimu bola ini.”

Yeoja itu mendongakkan kepalanya menatapku. “Apa orang harus menyebutkan namanya saat mau mengambil bola?” Yeoja itu merebut bola dari tanganku dan bergegas pergi meninggalkanku terbengong-bengong sendiri.

Cih ~ dasar yeoja sombong. Belum tau bagimana pesona Cho Kyuhyun namja tertampan sejagad raya ini rupanya.

.: Kyuhyun POV end :.

…..

“Huah!! Apa ini?” teriak Kyuhyun ketika menemukan coklat dan surat cinta berjejal di dalam lokernya.

“Coklatnya ada racunnya tuh. Dan aku yakin kalau itu surat teror,” ucap namja berkepala besar yang berdiri disebelahnya.

“Babo! Tidak mungkin ada orang yang tega meracuni Cho Kyuhyun namja top wanted idaman semua yeoja, namja, dan ibu mertua sepertiku,” jawab Kyuhyun sambil senyum-senyum gajeh.

“Dasar namja narsis. Sebenernya yang kepala besar itu kau apa aku sih? Aku jadi nggak yakin,” ucap Yesung sambil memasang tampang pabo andalannya.

“HIAAAAA.. AWAS OPPAAAA!!”

BRUAKK!!

“Ukh,” rintih seorang yeoja kecil yang jatuh menabrak Kyuhyun.

Kyuhyun berdehem pelan. Ia menjulurkan tangannya ke arah yeoja yang tadi menabraknya itu. Yeoja itu hanya menatap sekilas ke arah tangan Kyuhyun yang masih terjulur dan bangkit sendiri.

“Mian,” ucapnya sambil membungkukkan badannya dan berlari menjauhi Kyuhyun.

Kyuhyun yang dikacangin begitu masih terpaku dengan ekspresi tidak elitnya. “Cih, dasar yeoja sombong.” Kyuhyun menutup pintu lokernya dengan keras dan berlalu menuju kelasnya.

“Kau kenapa? Siapa yang sombong?” tanya Yesung sambil mengikuti Kyuhyun.

“Itu, yeoja yang tadi menabrakku. Apa-apaan itu? Dibantuin bukannya makasih atau apa kek, eh malah langsung ngeloyor gitu aja. Nggak diajarin sopan santun kali ya? Dasar yeoja menyebalkan!!” Kyuhyun melengos sambil membanting tasnya ke meja. Ia mengeluarkan sebuah benda persegi dari saku celananya dan mulai memencet-mencetnya.

“Memangnya kau tidak seperti itu? Kau bahkan lebih parah tau!” ucap Yesung sambil ikutan melirik ke arah PSP yang sedang dimainkan Kyuhyun. “Lagian mana mungkin yeoja kaya raya macam Lee Kyung itu nggak diajarin sopan santun. Peraturan di rumahnya pasti ketat sekali. Harus ini lah, itu lah—“

“Ng? Siapa itu Lee Kyung?” potong Kyuhyun.

Yesung memutar matanya sebal. “Pabo, setauku kau ini punya ingatan nama-nama yeoja di sekolah ini. Kenapa sama yeoja itu kau tidak tau? Dia kan terkenal sekali.”

“Terkenal?”

Yesung mengangguk-angguk. “Dia itu yeoja sempurna idaman setiap orang. Putih, imut, pintar, kaya, baik, sopan, apalagi pipi chubbynya itu lho yang nggak nahan,”

“Yeoja sombong macam dia itu?” Kyuhyun menatap horror ke arah Yesung. “Nggak mungkin. Dia itu yeoja sinis, nggak tau sopan santun, dingin, jutek—“

“HYUUUNG!!!’ terdengar suara melengking dari arah pintu kelas Kyuhyun. Sesosok yeoja manis menyembulkan kepalanya dari balik pintu. “Aku bawa bekal makan siang,” katanya sambil memperlihatkan kotak bekal makanan di tangan kanannya.

“Kenapa lama sekali sih? Apa kau nggak tau kalau cacing-cacing di perutku ini sudah pada demo terus ngedance Bonamana yang di remix sama Don’t Don? Aish ~” omel Kyuhyun sambil menarik tangan Minnie menuju tempat duduknya.

Minnie menyapa Yesung yang wajahnya juga ikutan mupeng melihat makanan yang ia bawa. “Annyeong Yesung oppa.”

“Annyeong, Minhyun-ah. Kali ini menunya apa?”

“Me—“ ucapan Minhyun terpotong ketika Kyuhyun bertanya secara tiba-tiba padanya.

“Kau mengenal Lee Kyung?” tanya Kyuhyun datar.

“Oh, Mochi ya? Kenapa oppa tanya tentang Mochi? Oppa naksir ya?” goda Minhyun.

Kyuhyun yang mendengar ucapan Minhyun tiba-tiba tersedak. “M-mwo? Untuk apa aku suka pada yeoja sombong itu?”

“Aku bercanda oppaaa,” kata Minhyun sambil mengusap lengan Kyuhyun.

…..

.: Minhyun POV:.

Aku membuka pintu rumahku dengan lemas. Hah, pelajaran olahraga tadi benar-benar menguras tenagaku. Sekarang sudah jam lima sore, kenapa Kyuhyun oppa belum pulang ya? Apa ke rumahnya Yesung oppa ya? Lebih baik aku menyiapkan makan malam aja ah. Bisa repot kalau waktu Kyuhyun oppa pulang makanannya belum siap. Pasti oppaku yang satu itu bakal ngomel-ngomel sambil jitakin kepala manisku. Terima kasih deh, nggak usah repot-repot.

Aku berjalan menuju dapur. Tapi saat melewati ruang tengah aku melihat foto keluargaku yang terpajang di dinding. Aku tersenyum melihat wajah eomma, appa, dan Kyuhyun oppa yang tersenyum bahagia. Aku benar-benar merindukan saat-saat dimana keluarga kami masih menjadi keluarga yang utuh, keluarga yang bahagia, yang sempurna.

Memang di mana orangtuaku?

Aku memejamkan mataku untuk menahan rasa sakit yang sangat menusuk dalam hatiku. Perasaan rindu ini, seakan membunuhku perlahan. Aku selalu merasa sakit saat mengingat kejadian malam itu, malam jahanam yang telah mengambil orang tuaku. Malam jahannam yang telah merenggut senyuman dan semangat Kyuhyun oppa selama hampir satu tahun. Rasanya sakit melihat Kyuhyun oppa yang seperti mayat hidup begitu, tidak mau makan, tidak mau sekolah, tidak mau berbicara, bahkan mungkin tak ada yang dilakukannya selain menatap kosong ke arah luar jendela kamarnya. Entah apa yang ia lihat di sana.

FLASHBACK

Malam itu begitu dingin dan suram, ditambah lagi dengan hujan deras yang tak kunjung berhenti. Seorang anak kecil duduk dibawah sebatang pohon besar sambil memeluk tasnya erat-erat. Bibirnya mulai membiru dan tubuhnya menggigil pelan.

“Eomma, appa, cepat datang,” bisiknya lirih.

Cho Kyuhyun. Ya, dialah anak kecil yang sedang duduk dibawah pohon sambil menahan udara dingin yang menusuk kulitnya. Sore tadi sepulang sekolah ia tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan mampir ke game center dulu. Sudah menjadi kebiasaan bagi seorang Cho Kyuhyun menjadi tak mengenal waktu kalau sudah berada di game center dan dikelilingi oleh game-game kesayangannya.

Namun sayangnya ketika ia akan pulang hujan mulai turun. Awalnya hanya titik-titik kecil yang berjatuhan dan Kyuhyun tetap memutuskan untuk menerobos hujan. Ia mengira kalau ia bisa sampai rumah tanpa basah kuyup terlalu parah. Namun sayangnya ia salah. Di tengah jalan hujan tiba-tiba bertambah deras. Ia berlari menuju pohon terdekat untuk berlindung dari hujan.

“Apa yang harus kulakukan?” ucapnya lirih. Tubuhya mulai menggigil pelan.

Kyuhyun teringat kalau ia membawa handphone. Ia mengeluarkan benda itu dan menelepon appanya.

Tidak ada jawaban.

Kyuhyun mencoba menelepon eommanya.

Juga tidak ada jawaban.

Harapan terakhirnya hanya pada Minhyun, dongsaengnya yang masih kecil. Perlahan Kyuhyun menekan tombol-tombol nomor telepon rumahnya. Terdengar nada tunggu dari seberang.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kyuhyun mulai takut kalau tidak ada yang mengangkat dan itu artinya tak akan ada yang mengetahui keadaannya.

Ceklek.

Terdengar suara telepon diangkat. Kyuhyun segera berbicara dengan suaranya yang bergetar karena kedinginan. “Yeobosseyo? Minnie?”

“Kyuhyunnie oppa? Kau kah itu?”

“Iya. Ini aku. Di mana appa dan eomma? Kenapa mereka tidak menjawab teleponku?” tanya Kyuhyun.

“Appa dan eomma sedang mencari oppa. Oppa kemana aja sih? Kami semua khawatir mencari Kyuhyunnie oppa.”

Kyuhyun menarik napas lega. Ternyata orangtuanya masih mengingatnya. “Minnie, beritahu mereka aku sedang berada di bawah pohon sekitar satu kilometer dari game center. Di sini hujan deras sekali. Aku tak bisa pulang tanpa basah kuyup. Oh ya, suruh mereka cepat ya. Aku tak kuat lagi.”

“Ne, oppa. Tunggu ya.”

Tuut tuuuut tuuuuut.. Sambungan telepon terputus. Kyuhyun mendongakkan kepalanya menatap langit yang sudah semakin gelap namun hujan belum juga menampakkan tanda-tanda akan reda.

Semoga mereka cepat datang, batin Kyuhyun.

Tiga puluh menit berlalu.

Satu jam berlalu.

Dua jam sudah berlalu tapi orangtua Kyuhyun tak juga datang. Kyuhyun menatap kejauhan dengan resah. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam tapi orangtuanya tak juga datang. Kemana mereka?

Kyuhyun mencoba menelepon eommanya.

“Yeobosseyo, Kyuhyunnie?” terdengar suara eommanya yang begitu lembut dari seberang.

“Eomma di mana sih? Aku sudah lama kedinginan. Hujannya nggak berhenti-berhenti juga. Aku takut eomma,” ucap Kyuhyun putus asa. Suaranya bergetar karena menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Tak ada suara dari seberang. Eomma Kyuhyun yang tak lain adalah Cho Jungshin tidak berbicara sepatah kata pun.

“Eomma, cepat datang,” bisik Kyuhyun lirih.

“Mianhae chagiya. Eomma belum bisa menjemputmu. Eomma sedang ada pekerjaan. Appa juga masih sibuk. Mianhaeyo chagiya”

Kyuhyun sudah tidak tahan lagi. Anaknya sedang terjebak hujan deras di malam hari sendirian bukannya mencari atau apa mereka malah sibuk dengan pekerjaannya? Orangtua macam apa itu?

“Eomma! Aku tanya! Mana yang lebih penting, pekerjaan bodoh eomma itu atau aku? Aku sendirian kedinginan begini tapi eomma malah dengan santainya bilang eomma sibuk dengan pekerjaan eomma? Sebenernya eomma sayang nggak sih sama aku? Apa aku bukan anak eomma?” teriak Kyuhyun emosi. Tangisnya sudah pecah dari tadi. Belum pernah sebelumnya Kyuhyun membentak eommanya separah itu, bahkan membayangkannya saja tidak pernah. Mana mau dia membentak eomma yang sangat dicintainya itu? Tapi kali ini ia benar-benar takut. Kyuhyun tak peduli apapun yang sedang dilakukan orangtuanya mereka harus cepat datang.

Dari seberang telepon terdengar suara Jungshin yang terisak pelan. “Mianhae, Kyuhyunnie chagiya. Mianhaeyo.”

“Eomma dan appa harus cepat datang! Aku nggak mau tau lagi!.” Suara Kyuhyun mulai terdengar parau karena ia berbicara sambil menangis.

“Mianhae chagiya. Eomma dan appa tidak bisa.”

“AKU BENCI EOMMA DAN APPA!” teriak Kyuhyun kesal. Ia membanting ponselnya ke tengah jalan dan menangis sesenggukan sambil memeluk tasnya erat.

Sementara itu…

“Jungshin-ah, tenanglah. Kyuhyun pasti baik-baik saja,” bisik Sangwook untuk menenangkan istrinya yang menangis sesenggukan.

“Sangwook-ah, Kyuhyun membenciku. Dia membenciku,” racau Jungshin yang tak henti mengalirkan airmatanya. “Kyuhyun sendirian di sana. Dia pasti takut. Aku akan menjemputkan. Ya, aku akan pergi menemuinya dan membawanya pulang.”

“Chagi, tenanglah sedikit. Sebentar lagi rapatnya dimulai. Rapat kali ini menentukan nasib orang banyak, hidup para pegawai kita bergantung pada rapat ini,” ucap Sangwook bijak. Ia mencium pucuk kepala Jungshin untuk menenangkan istrinya.

Dua jam berlalu. Rapat mereka berlangsung sangat panas namun membawa hasil yang memuaskan. Perusahaan mereka tidak jadi disita dan nasib para pegawainya tetap terjamin.

“Sangwook-ah, ayo cepat kita jemput Kyuhyun. Ini sudah tengah malam, dia pasti ketakutan sekali,” ucap Jungshin panik.

Mereka segera menuju mobil untuk menjemput Kyuhyun.

Wajah Jungshin menyiratkan kekhawatiran ketika mengetahui telepon Kyuhyun tidak dapat dihubungi.

“Jungshin-ah, bukannya itu Kyuhyunnie?” tanya Sangwook sambil menunjuk seorang anak yang duduk sendirian di bawah pohon sambil memeluk tasnya kuat-kuat. Matanya tertuju hanya tertuju pada Kyuhyun sampai tidak menyadari ada sebuah truk besar dihadapannya.

“Sangwooook, awaass!!!” teriak Jungshin panik sebelum—

BRAAKKK!!!

Truk itu menabrak mobil yang dikendarai Sangwook dan Jungshin sampai terpental sejauh dua puluh meter. Kyuhyun yang menyadari ada kecelakaan segera menghampiri. Ia tidak memperdulikan bajunya yang basah kuyup karena hujan tak juga berhenti.

Itu kan mobil appa, batin Kyuhyun. Ia segera berlari menuju mobil appanya yang dalam keadaan terbalik.

“Appa!! Eomma!!” teriak Kyuhyun begitu mengetahui dua sosok yang sedang berada dalam mobil itu. Ia mencoba membalik mobil namun tak kuat karena badannya yang kurus. Akhirnya ia menarik keluar tubuh appa dan eommanya yang sudah berlumuran darah.

.

.

.

Kyuhyun menangis sesenggukan dalam pelukan Minhyun. Sekarang mereka sedang berada di rumah sakit menunggu dokter menangani orangtuanya.

“Salahku, ini semua salahku. Kalau saja aku tidak ke game center dan memaksa mereka datang menjemputku, pasti mereka tak akan begini. Dasar Kyuhyun bodoh. Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya? Kenapa harus appa dan eomma?” racau Kyuhyun sambil menangis.

Minhyun hanya memeluk oppanya sambil menggigit bibir bawahnya, menahan isakkannya. Namun wajahnya sudah banjir dengan air mata.

“Oppaaa, hiks, oppa nggak salah kok. Ini, hiks, udah takdir. Sekarang berdoa aja, hiks, supaya mereka selamat,” ucap Minhyun dengan suara bergetar.

Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan pakaian putih-putih keluar dari ruangan UGD, tempat orangtua Kyuhyun dan Minhyun ditangani.

“Dokter,”

Dokter itu melepas kacamata yang bertengger di hidungnya dan memijat-mijat pangkal hidungnya perlahan. “Jeongmal mianhaeyo, kami sudah mencoba yang terbaik.”

Ucapan dokter itu serasa bagai petir yang menyambar Kyuhyun dan Minhyun. Keduanya jatuh meluruh di lantai dengan bahu bergetar dan wajah basah air mata. Kini kehidupan mereka yang sesungguhnya telah dimulai, kehidupan tanpa Cho Sangwook dan Cho Jungshin, appa-eomma yang sangat mereka sayangi.

FLASHBACK END

Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Mereka pasti sedih melihatku seperti ini. Appa dan eomma pasti ingin aku tersenyum dan menopang oppaku yang kadang emosinya masih labil itu. Mereka pasti ingin anak-anaknya bahagia.

Appa, eomma, saranghae.. Jeongmal saranghaeyo..

Ceklek ~

Kutatap sosok namja yang berdiri di depan pintu dengan pakaian yang berantakkan.

“Kyuhyunnie oppa?” panggilku.

Terdengar suara derap langkah Kyuhyun oppa yang menuju ke arahku di ruang tengah. “Minnie, aku lapaaar,” ucapnya manja sambil memeluk tubuhk. Sejak kematian orangtuaku hanya pada akulah Kyuhyun oppa bermanja-manja. Kadang aku jadi bingung, yang dongsaengnya itu aku atau dia sih?

“Aku nggak bakal bisa masak kalau oppa peluk aku gini terus,” ucapku pada Kyuhyun oppa sambil mencoba melepaskan pelukannya. “Oppa mandi sana, bau tuh.”

“Arasseo, tapi cepat masakkan makanan untukku ya,” ucapnya sambil mengacak rambutku pelan.

Aku baru akan beranjak menuju dapur ketika aku teringat sesuatu. “Oppa?”

“Ne?” jawab Kyuhyunnie oppa dari lantai atas.

Aku menggigit bibir bawahku, menimbang-nimbang apakah akan menanyakannya atau tidak. “Selama beberapa hari terakhir oppa selalu pulang malam. Sebenarnya Kyuhyunnie oppa kemana?”

Kyuhyun oppa tidak menjawab.

“Oppa?” panggilku sekali lagi.

“Aku hanya bermain saja. Tidak usah khawatirkan aku.” Suara Kyuhyun oppa begitu dingin dan datar. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba aku menjadi khawatir?

.: Minhyun POV end :.

…..

Ting tong, ting tong..

Terdengar suara bel yang bergema memenuhi rumah sederhana yang dihuni Kyuhyun dan Minhyun.

“Oppa, buka pintunya. Aku lagi masak nih,” teriak Minhyun tak kalah keras dari bel yang dari tadi bertingtong-tingtong ria (?)

“Andwae!! Aku masih mandi!!” jawab Kyuhyun dengan teriakkan dari kamarnya.

Ish, siapa sih pagi-pagi begini bertamu? Merepotkan saja, batin Minhyun sambil berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu.

“Siwon oppa?”

“Annyeong Minnie!!” sapa namja yang dipanggil Siwon itu dengan ramah. Bibirnya membentuk segaris senyuman yang membuat lesung pipinya menjadi tampak dengan jelas.

“Annyeong Siwon oppa. Ayo masuk oppa,” tawar Minhyun sambil memberi jalan Siwon untuk masuk.

Siwon kembali tersenyum sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Minhyun dan Kyuhyun.

“Siwonnie?” panggil Kyuhyun dari lantai dua. Terlihat Kyuhyun yang hanya mengenakan celana seragam sekolahnya sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang dibawanya.

“Annyeong Kyuhyunnie,”

“Pasti mau numpang sarapan. Ya kan? Memang Yejin Ahjumma tidak memberimu sarapan ya setiap hari?” sindir Kyuhyun. Saat ini ia sudah duduk di meja makan masih tanpa mengenakan pakaian.

“Gyaaaa ~ Oppa, kalau mau makan pakai baju dulu sana.” Minhyun mendorong-dorong tubuh Kyuhyun menjauhi meja makan. “Jangan coba-coba mendekati meja makan sebelum berpakaian!”

“Arasseo, arasseo… Jangan habiskan jatahku lho Siwonnie,” ancam Kyuhyun sebelum pergi meninggalkan mereka berdua di meja makan.

Siwon melangkah pelan menuju dapur. Ia berniat membantu Minhyun memasak, hitung-hitung balas jasa gara-gara sudah numpang makan.

Siwon dan Kyuhyun sudah bersahabat sejak mereka kecil, bahkan mereka lahir pada tanggal yang sama. Rumah mereka bersebrangan dan orang tua mereka juga bersahabat dekat.

Awalnya Kyuhyun yang terkesan anti-sosial itu tidak pernah mau bermain dengan Siwon. Setiap kali Siwon dan orangtuanya berkunjung ke rumah Kyuhyun, Kyuhyun selalu menyendiri bersama psp kesayangannya. Kalau Siwon sudah mendekat, Kyuhyun akan segera menyingkir menjauh kemudian kembali memainkan pspnya.

Kedekatan mereka bermula saat Minhyun yang terlihat akrab dengan Siwon membuat Kyuhyun cemburu. Memang pada saat itu satu-satunya orang yang bisa akrab dengan Kyuhyun hanya Minhyun, dongsaeng favoritnya. Ia selalu berpikir bahwa Minhyun itu miliknya dan tidak ada orang yang boleh mendekati Minhyun selain dirinya.

FLASHBACK

“MINNIE!! MINNIE!!” teriak Kyuhyun sambil berputar-putar mencari Minhyun di segala penjuru rumah.

“MINNIE!! KAU DIMANA?” Kembali terdengar teriakan melengking yang keluar dari mulut Kyuhyun.

Dari arah dapur Jungshin datang tergopoh-gopoh menghampiri Kyuhyun. “Ada apa chagi? Kenapa teriak-teriak?” tanya Jungshin lembut sambil mengelus pipi Kyuhyun.

“Eomma tau dimana Minnie? Aku cali kemana-mana tapi dia nggak ada. Bagaimana kalau Minnie diculik alien telucs diculuh ngelawan moncstel-moncstel celam?” tanya Kyuhyun parno.

Jungshin tersenyum mendengar penuturan anaknya itu. “Kyuhyunnie, Minnie nggak diculik alien kok. Dia sekarang ada di rumah Siwon-ah. Nggak usah parno gitu ah,” kata Jungshin sambil menowel pipi Kyuhyun kemudian beranjak pergi melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda.

“Eh, belalti Ciwon itu alien, Eomma!” teriak Kyuhyun ngotot. Ia berlari ke halaman rumahnya dan melihat Minhyun sedang bercanda dengan Siwon di halaman rumah Siwon.

Kyuhyun berjalan menghentak memasuki rumah Siwon. Bibirnya mengerucut pertanda ia sedang kesal berat.

“Minnie, ayo pulang.” Kyuhyun menarik paksa tangan Minhyun yang membuat Minhyun sedikit meringis kesakitan.

Minhyun menghentakkan tangan Kyuhyun dengan kasar. “Aku mau main sama Ciwon oppa,” ucap Minhyun dengan nada final.

“Tidak boleh! Ayo pulang!”

“Shireo!”

“Halucs!”

“Shireo!”

“HALUUUCCSS!!”

“SHIREOOOO!!”

“HALUCS!!”

“SHIREOOOOOO!”

“HA—“ ucapan Kyuhyun terhenti ketika Siwon menepuk bahunya perlahan.

Kyuhyun menoleh menatap Siwon dengan pandangan benci yang kentara sedangkan yang ditatap dengan tatapan horror begitu hanya tersenyum manis yang menampakkan lesung pipitnya yang tanpa disadari bertahun-tahun kemudian dapat membuat jutaan yeoja langsung tepar termasuk author.

“Apa?” tanya Kyuhyun galak.

Siwon kembali tersenyum.

Idiih, kenapa cih olang ini cenyum-cenyum telus? Pengen kayak kuda ya? batin Kyuhyun parno.

“Minnie maunya main di cini. Lebih baik kamu lepacskan tangannya, nanti Minnie kecakitan,” ucap Siwon kalem yang malah membuat Kyuhyun naik darah.

MWOO?! MINNIE?! Itu kan panggilan cayangKU—hanya aku, Cho Kyuhyun namja telmanics cejagat laya *sejak kecil Kyuhyun sudah narsis, rupanya*, dan celamanya HANYA AKU yang boleh menggunakannya—untuk Minnie!! Evil yang bersemayam dalam diri Kyuhyun mulai mengamuk.

“Minnie cuma boleh main cama aku,” desis Kyuhyun lambat-lambat. Matanya menatap Siwon tajam seakan-akan mengeluarkan laser yang membuat author semakin ingin memakannya (?)

Siwon lagi-lagi menjawab ucapan Kyuhyun dengan senyuman manisnya. “Minnie boleh main cama ciapa aja kok,” ucapnya tenang, seakan tak tau kalau raja setan yang ada di hadapannya sudah mengamuk.

BUAAGH!!

Kyuhyun kecil meninju pipi Siwon, membuat namja berlesung pipi indah itu jatuh tersungkur di lantai. Matanya menatap nyalang ke arah Siwon yang masih tersenyum sambil memegang pipinya yang habis kena bogem mentah Kyuhyun.

“Oppa! Gwaenchanayo?” tanya Minhyun panik sambil berlari menghampiri Siwon.

“Gwaenchanha, Minnie.” Siwon bangkit berdiri. Ia berjalan dengan tenang menghampiri Kyuhyun yang nafasnya masih memburu menahan amarah.

“MINNIE NGGAK BOLEH MAIN CAMA CIAPAPUN KECUALI AKU KALENA MINNIE ITU MILIKKU!!” teriak Kyuhyun kalap di depan wajah Siwon.

“Oppaaa?” panggil Minhyun cemas, entah untuk Kyuhyun yang sedang mengamuk atau untuk Siwon yang sedang diamuki (?)

BUAGH!!

Kali ini Kyuhyun yang terjatuh. Ujung bibirnya berdarah dan mengeluarkan darah segar.

“Oppa? Gwaenchanayo?” tanya Minhyun cemas kuadrat. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.

Bukannya membalas pertanyaan Minhyun dengan lembut seperti apa yang sudah Siwon perintahkan tadi, Kyuhyun malah mendorong Minhyun keras hingga tubuh mungilnya terjatuh di sebelah Kyuhyun.

Air mata Minhyun jatuh membasahi pipi putihnya.

“Kyuhyunnie kan oppanya Minnie, cehalucsnya Kyuhyunnie melindungi Minnie. Jangan kayak anak kecil doooong.” Siwon membantu Minhyun berdiri kemudian menghampiri Kyuhyun dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kyuhyun berdiri yang tentu saja langsung ditepis Kyuhyun dengan kasar.

KYUHYUNNIE?! Bah, rasanya Kyuhyun ingin muntah mendengar cara Siwon memanggil dirinya.

“Jangan panggil aku Kyuhyunnie! Kau bukan ciapa-ciapaku!” Kyuhyun memandang Siwon tajam.

Siwon lagi-lagi kembali menampakkan senyumannya yang membuatnya lama-lama terlihat seperti kuda yang doyan nyengir. “Kau kan temanku.”

Kyuhyun terhenyak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Siwon. Ia memicingkan mata menatap Siwon yang belum berhenti tersenyum. Temannya? Selama ini Kyuhyun bersikap begitu buruk pada Siwon tapi Siwon tetap menganggap dirinya teman? Siwon itu bodoh atau apa sih? *dibantai siwonest*

“Jangan aneh-aneh. Celama ini kan aku cuka nakalin kamu, kenapa kamu macih menganggapku teman? Kau ini aneh ya?” tanya Kyuhyun sambil menampakkan evil smilenya.

“Bialin. Kata eomma, walaupun Kyuhyunnie cukanya malah-malah dan nggak pelnah mau main cama aku, Kyuhyunnie tetap temanku.”

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Baru kali ini ada orang yang menganggapnya teman setelah ia memperlakukan orang itu dengan begitu buruk. “Mianhae,” ucap Kyuhyun lirih.

“Gwaenchana, ayo kita main belcama.” Siwon memeluk Kyuhyun dan menariknya untuk bermain bersama.

Tanpa mereka sadari, ada empat pasang mata yang melihat kejadian itu dengan senyuman haru.

“Aish, lihat Yejinnie, anakku sudah besar. Rasanya baru kemarin aku mengganti popoknya,” ucap Jungshin, eomma Kyuhyun dan Minhyun sambil mengelap air mata haru yang menetes keluar.

“Kau ini lebai sekali Jungshin?” Yejin menjitak kepala Jungshin pelan. “Tapi kau benar, anak kita sudah besar sekarang. Itu tandanya kita semakin tua ya?”

“Huwee~ aku nggak mau tuaa~” Jungshin semakin menangis menjadi-jadi setelah mendengar ucapan Yejin.

“Ish, dasar peterpan babo!!” Yejin kembali menjitak kepala Jungshin.

Sementara itu sang appa—Sangwook dan Seunghyun—hanya saling berpelukan ala teletubies.

“Tak terasa anakku makin besar, makin dewasa pula,” ucap Seunghyun dengan pandangan mata berbinar-binar.

“Anakku memang tampan seperti appanya,” ucap Sangwook narsis. Rupanya sifat narsis Kyuhyun itu turunan dari appanya yang nggak kalah narsis.

Seunghyun menggeplak kepala Sangwook. “Kau ini.”

Mereka berempat tertawa bahagia bercampur haru menyadari anak-anak mereka sudah bertambah besar dan semakin dewasa.

FLASHBACK END

Siwon berdiri di samping Minhyun yang sedang memasak. “Sedang memasak apa?” tanya Siwon sambil melirik wajan yang sedang ditekuni Minhyun.

“Eh? Aku sedang memasak nasi goreng,”

“Mau kubantu?” tanya Siwon sambil merapatkan dirinya dengan tubuh Minhyun.

.: Minhyun POV :.

“Sedang memasak apa?” tanya seseorang dari sebelahku.

Aku menatap orang itu kaget selama dua detik kemudian menjawab pertanyaannya. “Eh? Aku sedang memasak nasi goreng.”

“Mau kubantu?” tanyanya lagi.

Tapi sebelum aku menjawab pertanyaannya ia lebih dulu merapatkan tubuhnya dengan tubuhku.

DEG!

Aish, lagi-lagi itu. Kenapa jantungku selalu berdetak lebih kencang kalau berdekatan dengan Siwon oppa sih? Kenapa aku ini?

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya lembut tepat ditelingaku. Aku merinding mendengarnya.

“Eng? O-oppa bisa siapkan meja makannya,” ucapku gugup. Aku menundukkan wajahku yang rasanya menghangat.

Aish, kenapa sih aku ini? Kenapa wajahku memanas sih? Kenapa pula jantungku berdetak secara membabi buta begini? Apa organ tubuhku ada yang rusak sampai jantungku rasanya mau mencelos?

“Arasseo,” ucap Siwon oppa singkat sebelum meninggalkan diriku sendirian di dapur.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku yang sudah menggila ini. Pada tarikan kelima jantungku sudah berdetak dengan normal. Huh, untunglah.

“Minnie, masakannya sudah jadi?” tanya Siwon oppa yang muncul tiba-tiba di sebelahku, membuat jantungku kembali berdetak secara gila-gilaan.

“Ah?! Eh, a-apa? Oppa tadi bilang apa?” tanyaku gugup. Duh jantung, kenapa kau begini sih?

Siwon oppa tertawa kecil. “Kau kenapa Minnie? Kenapa gugup begitu?”

“Eh? A-apa? G-gugup? Aih, t-tidak kok. Aku hanya kaget saja. Kau mengagetkanku Siwon oppa.” Aku menundukkan kepalaku. Apa-apaan ini? Kenapa aku bertingkah seolah-olah aku menyukainya?

MWO?!

Apa tadi yang kubilang? Aku menyukainya?

Kurasakan wajahku memanas saat memikirkannya. Masa sih aku menyukai Siwon oppa? Ah, pasti kepalaku habis terbentur sesuatu sampai berani memikirkan pikiran gila seperti ini.

“Minnie! Awas masakannya gosong!” teriak Siwon oppa panik sambil menunjuk-nunjuk wajan yang sedang kupegang.

Aku menundukkan kepalaku menatap masakkanku yang mulai menghitam. “Gyaaa~ kenapa bisa begini sih? Aish, Kyuhyun oppa pasti bakal ngomel-ngomel nih,” keluhku sambil mengangkat nasi gorengku yang berwarna kehitaman dan meletakkannya di piring. Gara-gara kebanyakan ngelamunin Siwon oppa nih aku gini.

Siwon oppa mengambil sendok yang ada di depannya dan menyendok nasi goreng yang terlihat hancur itu. Ia mengunyahnya perlahan. Pasti rasanya pahit.

“Ah, masih tetap enak kok. Nggak seperti masakan gosong,” ucapnya sambil menatap wajahku.

Aku yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah dan tidak bisa berbicara dengan jelas. “Eng? Ah, ne.”

Tangan Siwon oppa bergerak menuju kepalaku dan mengusap-usap rambutku lembut. Aku hanya menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan wajahku yang sudah pasti merona hebat.

“Kau memang hebat, Minnie.”

“Gomawo, oppa,” ucapku malu-malu.

.: Minhyun POV end :.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap nanar ke arah mereka berdua sebelum melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari rumah sederhana itu.

 TBC or Finish?

 A/N (Author Ngebacot)

 Yuhuuu, annyeong semuaaa.. Kali ini aku datang dengan fict nggak genahku yang bisa bikin sakit mataaaa.. Aku nggak tau gimana pendapat chingudeul tentang fict ini. Kalau ngebosenin, diENDin (?) aja nggak apa-apa kok. Tapi kalau masih mau TBC, langsung aja CAPCUUTT ~ Gomawo udah baca *mata bintang-bintang minta review*

Akhir kata karena author takut dibantai massa, jangan lupa main ke blog aye di http://alyafirdausyi.blogspot.com *malah promosi**digeplak reader*

RnR, jebaaaaaal?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s